, ,

Dampak Covid-19, Produksi Bijih Besi Cina Turun 3 Persen

Posted by

Jakarta, Petrominer – Produksi bijih besi Cina diperkirakan turun 3 persen menjadi 78,2 juta ton (Mt) pada tahun 2020 ini karena dampak wabah Covid-19. Pasalnya, beberapa tambang dan pabrik terpaksa menghentikan sementara kegiatan produksinya.

Perusahaan data dan analisis terkemuka, GlobalData, melaporkan bahwa selama periode Januari dan Pebruari 2020, tingkat operasi di tambang bijih besi swasta turun dari 34,9 persen menjadi 29,6 persen. Dampaknya, produksi bijih besi Cina mengalami penurunan sampai 4,6 persen.

“Beberapa tambang dan pabrik harus menghentikan sementara kegiatan produksi. Pengiriman dan ekspor tertunda atau dijadwal ulang, serta terjadi kekurangan pekerja, yang tidak bisa kembali ke lokasi tambang setelah liburan Tahun Baru Imlek yang berkepanjangan karena masalah transportasi menyusul pemberlakuan lockdown,” tulis laporan GlobalData yang diterima Petrominer, Senin (13/4).

Analis Pertambangan Senior GlobalData, Vinneth Bajaj, menjelaskan bahwa sebagai akibat dari penurunan produksi tersebut, impor bijih besi tumbuh sampai 1,5 persen menjadi 176,8 Mt pada periode Januari dan Februari 2020. Namun, produk impor tersebut tertumpuk di pelabuhan hingga mencapai 13,11 Mt pada Pebruari 2020 lalu. Penumpukan ini terjadi karena masalah transportasi, lockdown dan inventori di pelabuhan yang mencapai tiga bulan.

Produksi Biji Besi Cina (dalam juta ton/Mt) Periode 2010-2024. (Mining Intelegenci Center GlobalData)

GlobalData memperkirakan produksi bijih besi Cina akan tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 1,1 persen antara tahun 2020 dan 2024 menjadi 81,6 Mt.

Bajaj menyimpulkan, pertumbuhan akan relatif datar karena kurang efisiennya kapasitas baja menyusul pemberlakukan inisiatif lingkungan ‘Blue Sky’ selama tiga tahun, yang berlangsung dari 2018 hingga 2020. Inisiatif ini telah mendorong para pembuat baja di Cina untuk memanfaatkan bijih besi kadar tinggi (Fe 58-62 persen), yang berasal dari Australia dan Brasil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *