
Trondheim, Norwegia, Petrominer – Penelitian terbaru menunjukkan bahwa implementasi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS) di fasilitas industri dapat menurunkan emisi CO2 yang signifikan dengan biaya minimal pada bangunan publik. Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan di SINTEF Energy Research dan Delft University of Technology (TU Delft).
Temuan tersebut dipublikasikan dalam makalah berjudul “Is CCS really so expensive? An analysis of cascading costs and CO2 emission reduction of industrial CCS implementation on the construction of a bridge,” dalam edisi terbaru Environmental Science and Technology, Jum’at (3/2).
Makalah tersebut ditulis oleh Sai Gokul Subraveti (SINTEF), Elda Rodríguez Angel (TU Delft), Andrea Ramírez (TU Delft) dan Simon Roussanaly (SINTEF). Mereka meneliti bagaimana implementasi CCS dalam produksi baja dan semen akan berdampak pada biaya jembatan Danau Pontchartrain Causeway di Louisiana, AS.
Saat ini, jembatan tersebut merupakan jembatan balok di atas air terpanjang di dunia, dan terdiri dari sekitar 225.000 m3 beton dan 24.209 ton baja. Pekerjaan ini dilakukan berkerja sama dengan Norwegian CCS Research Centre (NCCS).
Penelitian tersebut menegaskan bahwa implementasi CCS hanya akan berdampak pada sebagian dari total biaya.
CCS memang sering kali dikritik karena terlalu mahal. Apalagi, banyak penelitian meneliti dampak implementasi CCS pada pabrik industri, namun tidak meneliti dampak implementasi CCS pada pengguna akhir. Ini adalah kesenjangan yang signifikan. Pasalnya, kebanyakan orang tidak membeli bahan mentah seperti semen atau baja, melainkan produk yang dibuat dengan semen dan baja, seperti rumah atau jembatan.
Dalam studi kasus, CCS awalnya menghasilkan kenaikan biaya bahan baku yang signifikan, yakni 60 persen untuk semen dan 13 persen untuk baja gulungan (hot-rolled coil/HRC). Namun, karena semen dan HRC hanya merupakan bagian dari biaya konstruksi jembatan, kenaikan biaya keseluruhan akibat CCS akan menjadi sekitar 1 persen.
“Semen dan baja sebenarnya hanya mewakili sebagian kecil dari total biaya pembangunan jembatan. Oleh karena itu, dampaknya tidak sepenting yang dirasakan ketika Anda hanya melihat pabrik semen dan baja,” ungkap Simon.
Untuk kenaikan biaya 1 persen, penerapan CCS dapat mengurangi emisi CO2 yang terkait dengan pembangunan jembatan sebesar 51 persen. Kenaikan 1 persen ini bisa ditutupi dengan sedikit kenaikan tarif tol yang dibayarkan pengguna jalan untuk mengakses jembatan tersebut. Tidak hanya itu, pengurangan emisi sebesar 51 persen tidak dapat diabaikan, terutama karena industri semen dan baja bersama-sama menyumbang sekitar 15 persen dari emisi CO2 dunia.
“Studi kasus ini dengan jelas menunjukkan bahwa pendekatan holistik harus diterapkan dengan menilai biaya pengurangan emisi dari CCS, bukan hanya pada tingkat komponen dan material, tetapi secara keseluruhan,” kata Executive Vice President for Sustainability SINTEF, Nils Røkke.
“Ini harus mendorong pengembang infrastruktur dan pembeli publik untuk meminta material rendah emisi dalam tender dan menggunakannya sebagai dasar untuk kinerja lingkungan bangunan baru,” tegasnya.

Hasil dari studi kasus ini mengilustrasikan bagaimana kota dan pemerintah dapat menggunakan bahan rendah karbon untuk mencapai tujuan iklim tahun 2030 mereka di bawah Paris Agreement dengan biaya yang masuk akal. Meskipun diperlukan lebih banyak penelitian tentang dampak implementasi CCS pada produk dan jasa pengguna akhir, studi ini diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk lebih memahami biaya dan manfaat CCS.
Meskipun tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini, perlu dicatat bahwa pengurangan emisi lebih lanjut dapat dicapai dengan, misalnya, menggunakan hidrogen rendah karbon ketimbang batubara sebagai zat pereduksi.








