Sidang Dewan Energi Nasional (DEN) ke 18 yang digelar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kamis (21/7). Pertemuan ini dipimpin Menteri ESDM, Sudirman Said.

Jakarta, Petrominer — Untuk pertama kalinya, Indonesia akan memiliki cadangan penyangga energi (CPE). Dana untuk mengamankan kebutuhan energi nasional ini sudah disipakan dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara – Perbaikan (APBN-P) 2016.

Rencana pembentukan CPE ini mulai dibahas dalam Sidang Dewan Energi Nasional (DEN) ke-18 yang digelar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kamis (21/7). Pertemuan ini dipimpin Menteri ESDM, Sudirman Said.

“Ide telah disepakati, dana disiapkan, landasan hukumnya yang harus dibangun. Kita sudah menyusun rancangan Perpres untuk cadangan penyangga energi. Draft-nya sudah disepakati,” ujar Sudirman dalam jumpa pers usai sidang DEN.

Menurut Sudirman, pihak KESDM bersama DEN telah menyiapkan draft Peraturan Presiden (Perpres) untuk payung hukum pembentukan CPE. APBN-P 2016 telah mengalokasikan dana sebesar Rp 1,6 triliun untuk Dana Ketahanan Energi (DKE). Separuh dari dana tersebut, yang sebesar Rp 800 miliar, akan digunakan untuk menghimpun CPE.

Meski masih sedikit, tegasnya, inilah untuk pertama kalinya Indonesia memiliki cadangan penyangga untuk mengamankan kebutuhan energi nasional.

“Tahun ini pertama kali dalam sejarah kita punya CPE. Sudah waktunya negara punya cadangan penyangga energi. Dalam APBNP 2016 diputuskan Rp 1,6 triliun untuk DKE, separuhnya untuk cadangan penyangga energi. Ini merupakan inisiasi, mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya lebih besar,” ujar Sudirman.

Dalam kesempatan itu, Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, menambahkan bahwa dana sebesar Rp 800 miliar akan dipakai untuk menghimpun CPE dalam bentuk minyak mentah. Dengan dana sebesar Rp 800 miliar tersebut, bisa diperoleh cadangan minyak mentah sebanyak 1,6 juta barel, setara dengan konsumsi minyak bumi selama 1 hari di Indonesia.

“Rp 800 miliar hanya untuk beli crude saja. Dengan harga minyak US$ 50/barel bisa dapat kira-kita 1,6 juta barel,” ucap Wiratmaja.

Minyak mentah untuk cadangan penyangga tersebut akan dibeli dari dalam maupun luar negeri. Kalau dari dalam negeri tidak cukup, maka pengadaannya dilakukan dengan impor. CPE sebanyak 1,6 juta barel tersebut rencananya akan disimpan di tangki-tangki penyimpanan (storage) di dalam negeri. Berdasarkan pemetaan Ditjen Migas, ada banyak storage milik para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan total kapasitas 4,5 juta barel yang bisa dipakai.

Sementara itu, Anggota DEN Andang Bachtiar mengingatkan agar minyak mentah untuk CPE harus disesuaikan dengan spesifikasi kilang-kilang di dalam negeri. Jadi tidak bisa sembarangan beli, karena harus bisa diolah di kilang dalam negeri.

“Kita harus simpan crude yang bisa diolah di kilang dalam negeri. Jadi tidak beli sembarangan. Ini akan disesuaikan dengan kilang yang ada dan yang akan dibangun,” ujar Andang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here