Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono. (Petrominer/ ©Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono menyebutkan bahwa cadangan mineral di Indonesia masih cukup besar, terutama besi, emas primer, dan nikel. Sementara untuk sumber daya, tercatat tembaga, besi, dan emas primer menempati jumlah terbesar dibandingkan komoditas mineral lainnya.

“Potensi sumber daya dan cadangan minerba masih besar, khususnya nikel masih cukup lumayan, kemudian besi. Lainnya adalah emas primer, tembaga, bauksit dan perak,” ujar Bambang dalam jumpa pers di kantornya, Kamis (12/3).

Berdasarkan data Badan Geologi per Desember 2018, potensi sumber daya tembaga mencapai 12.468,35 bijih juta ton, sementara besi sebesar 12.079,45 bijih juta ton, emas primer 11.402,33 bijih juta ton, nikel 9.311,06 bijih juta ton, perak 6.433,01 bijih juta ton, bauksit 3.301,33 bijih juta ton, timah 3.878,29 bijih juta ton, dan emas alluvial 1.619,84 bijih juta ton.

Sementara cadangan total terbukti dan terkira dari Nikel 3.571,56 bijih juta ton, besi 3.074,01 bijih juta ton, emas primer 3.024,39 bijih juta ton, perak 2.765,96 bijih juta ton, tembaga 2.761,18 bijih juta ton, bauksit 2.378,34 bijih juta ton, timah 1.209,94 bijih juta ton, dan emas alluvial 6,06 bijih juta ton.

Bambang juga menyebutkan potensi sumber daya batubara sebesar 149,009 miliar ton dan cadangan 37,604 miliar ton. Cadangan terbukti batubara Indonesia sebesar 3,5 persen dari total cadangan terbukti dunia. Meskipun cadangan batubara Indonesia bukan yang terbesar di dunia, jelas Bambang, namun ekspor Indonesia yang paling besar.

“Ini kalau dari sisi cadangan terbukti menunjukkan Indonesia tidak yang paling besar. Yang terbesar justru Amerika Serikat, diikuti Rusia, Australia, Cina, India, baru Indonesia. Tapi Indonesia punya ekspor yang paling besar. Karena penggunaan di dalam negeri masih belum begitu signifikan kenaikannya, lebih cepat kenaikan produksinya daripada kenaikan kebutuhan dalam negeri,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Bambang juga memaparkan bahwa pihaknya terus melaksanakan penyempurnaan data pengusahaan mineral dan batubara. Hingga 10 Maret 2020, data IUP di Indonesia adalah sebanyak 3.504 IUP dengan rincian 3.372 IUP Provinsi dan 132 IUP Pusat.

Data pengusahaan lainnya adalah 31 Kontrak Karya, 67 PKP2B, 692 IUJP, 770 IUP Operasi Produksi khusus yang rinciannya adalah 718 IUP Operasi Produksi Khusus Pengangkutan dan Penjualan dan 52 IUP Operasi Produksi khusus Pengolahan dan/atau Pemurnian, serta 16 Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

“Seluruh data tersebut terhimpun dalam database yang dikelola oleh Ditjen Minerba yakni dalam Minerba One Map Indonesia (MOMI) dan Minerba One Data Indonesia (MOMI),” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here