PLTP Ulubelu, Tanggamus, Lampung.

Jakarta, Petrominer – Banyak orang menganggap panasbumi sebagai energi untuk membangkitkan listrik. Memang benar. Malahan, sumber energi itu sudah dipakai sejak 100 tahun lalu. Sebanyak 29 negara pun telah memanfaatkannya untuk menghasilkan listrik. Ada juga lima negara yang sedang mengembangkannya.

Namun, panasbumi juga memiliki berbagai manfaat lain yang tersembunyi. Selain untuk menghasilkan listrik, panasbumi juga bisa mengurangi emisi dan mengoptimalkan sumber daya energi natural domestik.

“Panasbumi juga ikut berkontribusi dalam pembangunan daerah,” ujar Manager Government & Public Relation PT Pertamina Panasbumi Energy (PGE), Sentot Yulianugroho, Rabu (4/8).

Sentot menjelaskan, keberadaan pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP) berperan mengurangi emisi gas buang karbondioksida (CO2). Berdasarkan perhitungan versi Carbon Neutral Calculator, pengurangan gas rumah kaca bahkan telah mencapai 14,91 juta ton CO2 per tahun.

“Jumlah itu didapatkan berdasarkan kapasitas PLTP di Indonesia sebesar 2.130,6 Megawatt (MW). Sementara PGE yang sudah mengoperasikan pembangkit listrik panasbumi sejak hampir lima dekade lalu, sudah turut mengurangi berjuta-juta ton gas CO2,” ungkapnya.

Saat ini saja, dengan kapasitas 672 MW, PGE sebagai bagian dari Pertamina Subholding Power, New & Renewable Energy (PNRE) telah berpartisipasi mengurangi 3,6 juta ton CO2 per tahun. Partisipasi pengurangan CO2 tersebut sebagaimana khazanah penyelamatan lingkungan global.

Dunia memang berkomitmen untuk mengurangi gas rumah kaca, terutama CO2, yang sangat berpengaruh terhadap perubahan komposisi atmosfer dan perubahan iklim global. Presiden Joko Widodo dalam acara “Working Lunch on Development and Climate Change” di KTT G20, Antalya, Turki, 15 Juni 2018, menyatakan Indonesia siap melakukan aksi nyata dalam pengurangan emisi gas rumah kaca. Pengurangan emisi tersebut merupakan konsekuensi dari penandatanganan Protokol Kyoto oleh 188 negara pada 11 Desember 1997, dan Indonesia termasuk di dalamnya.

Hingga saat ini, PGE setidaknya mengelola tujuh proyek dalam kerangka Clean Development Mechanism (CDM), enam di antaranya terdaftar di UNFCC (United Nations Framework Convention on Climate Change).

Terkait dengan optimasi sumber daya domestik, Sentot menyebutkan bahwa keberadaan PGE dari sisi ekonomi makro telah berkontribusi terhadap penghematan devisa. Sejak tahun 1997, Indonesia harus mengimpor minyak karena produksi dalam negeri tak sanggup memenuhi konsumsi yang terus meningkat. Beroperasinya PLTP secara tidak langsung ikut berkontribusi terhadap penghematan cadangan devisa migas.

Menurut Sentot, dengan kapasitas nasional PLTP Indonesia sebesar 2.130,6 MW berarti setara dengan 100,778 Barrels Oil Equivalent Per Day (BOEPD) yang jika digenapkan satu tahun menjadi 36,78 juta BOEPD. Jika diasumsikan harga minyak US$ 50 per barel, devisa yang bisa dihemat selama setahun dari keberadaan PLTP mencapai US$ 1,84 miliar.

“Dengan perhitungan yang sama, PGE dengan 672 MW-nya telah memberikan kontribusi penghematan devisa US$ 580 juta per tahun,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Sentot menjelaskan bahwa keberadaan panasbumi juga berkontribusi terhadap pajak dan PNBP (pendapatan negara bukan pajak). PGE berkontribusi memberikan 34 persen dari pendapatan bersihnya (Nett Operating Income) setiap tahun kepada negara. Pemasukan itu di antaranya berupa PPh karyawan, bea masuk dan pungutan lain atas cukai dan impor, serta pajak daerah dan retribusi daerah.

Untuk PNBP, diperoleh dari all inclusive yang dipatok 34 persen. Dan khusus untuk daerah penghasil, PGE dan pengembang panasbumi yang sudah berproduksi juga membagikan bonus produksi sebesar 1 persen dari penjualan uap atau 0,5 persen penjualan listrik. Dana ini disetor langsung ke kas daerah.

Pertumbuhan Ekonomi Lokal

Lebih lanjut, Sentot menjelaskan bahwa kehadiran PLTP juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal lewat partisipasinya dalam pembangunan daerah. Kontribusi paling utama adalah pembangunan infrastruktur. Dengan lokasi yang selalu berada di remote area, perusahaan harus membangun infrastruktur jalan untuk memperlancar transportasi logistik. Jalan yang tadinya hanya berupa tanah, bahkan hanya jalan setapak, diperlebar dan diaspal. Bahkan jika tanahnya labil, dilakukan pembetonan.

Dia mencontohkan masyarakat Desa Ngarip di kawasan lapangan panasbumi Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Mereka merasakan betul infrastruktur jalan yang dibangun PGE. Dulu, jika hujan lebat, masyarakat bisa memakan waktu sehari semalam bermobil untuk sampai ke Kota Pringsewu yang berjarak 55 kilometer. Sekarang, cukup kurang dari dua jam dalam cuaca apa pun.

“Dampaknya, ekonomi Desa Ngarip dan desa-desa yang dilintasi jalan beraspal tersebut ikut berkembang. Kehidupan sosial dan kesejahteraan masyarakat juga meningkat signifikan,” ucap Sentot.

Di area PGE Area Lumut Balai, Muara Enim, Sumatera Selatan, dua desa di Kecamatan Semende Darat Laut, Desa Penindaian dan Desa Babatan, juga menjadi terhubung jalan aspal. Sebelumnya, kedua desa itu jauh berada di dalam hutan dan produk pertaniannya sulit bersaing karena mahalnya biaya transportasi. Kini, produk pertanian dari dua desa tersebut lebih laku di pasaran.

Sementara di PLTP Kamojang, berbagai tempat di sana menjadi tempat wisata yang menjadi magnet turis lokal. Begitu juga di lapangan panasbumi Karaha, Lahendong, dan Sibayak.

Dia mengakui, Indonesia masih relatif muda dalam pengembangan panasbumi dibandingkan Amerika, Italia, Selandia Baru, Jepang, Islandia. Namun, pengembangan sumber energi yang ramah lingkungan itu masih sangat terbuka lebar. PGE pun berkomitmen meningkatkan inovasi bisnis yang bermanfaat tidak hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga keberlangsungan lingkungan untuk masa depan.

“Upaya ini menjadi misi PGE untuk menjadikan panas bumi sebagai beyond energy,” tegas Sentot.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here