
Jakarta, Petrominer – Negara-negara BRICS dinilai memiliki peluang besar untuk membangun industrialisasi dan pasar mineral kritis secara bersama-sama. Kolaborasi tersebut dapat menjadi jalan bagi negara-negara Global South untuk meningkatkan nilai tambah mineral sekaligus memastikan pengembangannya sejalan dengan agenda transisi energi dan komitmen lingkungan.
Peluang itu mengemuka karena sejumlah negara BRICS memiliki cadangan mineral kritis yang besar, tetapi hilirisasinya belum mencapai nilai ekonomi optimal. Indonesia dan Brasil, misalnya, masih menghadapi tantangan dalam mendorong pengolahan mineral dari tahap dasar menuju produk bernilai tambah tinggi.
Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, mengatakan Indonesia memang menjadi salah satu benchmark hilirisasi mineral di Global South. Namun, keterbatasan model hilirisasi yang dijalankan mulai terlihat, terutama karena investasi dibuka secara cepat tanpa didukung peta jalan dan data aliran mineral yang transparan.
“Meski hilirisasi nikel selalu dibanggakan pemerintah, namun pengolahannya belum sampai ke produk akhir. Tidak ada data yang jelas terkait aliran hasil olahan nikel ini ke sektor industri lain di dalam negeri,” kata Putra dalam webinar bertema “Brazil and Indonesia in the Global Critical Mineral Races,” Rabu (9/9) lalu.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat ukuran keberhasilan hilirisasi menjadi kabur. Pengolahan nikel yang selama ini menjadi salah satu proyek unggulan pemerintah pun belum sepenuhnya terhubung dengan industri manufaktur di dalam negeri.
Kondisi tersebut menunjukkan hilirisasi mineral kritis Indonesia masih berisiko terjebak dalam pola ekstraktivisme, bukan industrialisasi. Padahal, posisi Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia memberikan daya tawar untuk mengarahkan investasi menuju industri bernilai tambah tinggi.
Indonesia Punya Daya Tawar
Meski begitu, Putra mengatakan Indonesia menyumbang sekitar 60-65 persen produksi nikel global sehingga memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pengembangan industri. Posisi tersebut semestinya dimanfaatkan untuk menarik investasi yang memenuhi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) serta memiliki jejak emisi rendah.
“Sebenarnya kita memiliki peluang untuk beralih dari industri ekstraktif menuju industrialisasi yang sesungguhnya. Sebagai produsen nikel hingga 60-65 persen dari global, Indonesia sebenarnya bisa membuka pintu investasi, namun dengan syarat standar ESG tinggi dan rendah emisi,” ujarnya.
Namun, pengembangan industri mineral tidak semata-mata ditentukan oleh pertimbangan ekonomi. Keterkaitan investasi dengan kepentingan politik kerap membuat arah kebijakan sulit diubah meski terdapat kebutuhan untuk memperbaiki model hilirisasi.
Tantangan serupa terlihat di Brasil. Executive Director Instituto E+ Transição Energética, Rosana Santos, mengatakan kebijakan mineral kritis harus berjalan beriringan dengan kebijakan industri.
Menurut Rosana, ekstraksi, pengayaan, pengolahan, hingga transformasi menjadi produk industri merupakan tahapan berbeda. Masing-masing membutuhkan komitmen, alokasi pendanaan, pemahaman pasar, serta kepastian terhadap permintaan.
Brasil menjadi salah satu contoh kesenjangan antara besarnya cadangan mineral dan kapasitas produksi. Negara tersebut memiliki sekitar 25 persen cadangan tanah jarang dunia, tetapi hanya menyumbang sekitar 1 persen produksi global.
Pada komoditas niobium, Brasil sebenarnya telah menghentikan ekspor bijih sejak era 1970-an. Namun, pengolahan domestiknya masih banyak berhenti pada ferroniobium, yakni paduan besi dan niobium yang digunakan sebagai aditif dalam produksi baja berkekuatan tinggi untuk pipa gas, konstruksi, otomotif, dan perkapalan.
Menurut Rosana, Brasil masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan nilai tambah niobium, termasuk menuju material superkonduktor dan komponen elektronik.
“Kami memiliki pemahaman yang sama tentang bagaimana mengubah mineral kritis menjadi sumber kesejahteraan di negara-negara BRICS. Karena kalau ini kita serahkan ke pihak lain, kita hanya mengulang apa yang terjadi saat ini di mana negara kita hanya mengekspor barang setengah jadi dan membeli kembali produk teknologi tinggi,” katanya.
BRICS Jadi Basis Industri
Lebih lanjut, Rosana menilai BRICS dapat menjadi platform untuk mengubah pola tersebut. Kerja sama antarnegara anggota tidak hanya diarahkan pada perdagangan mineral, tetapi juga pembangunan industri dan penciptaan pasar bagi produk bernilai tambah.
Putra juga mendorong penguatan kerja sama regional di antara negara-negara BRICS. Menurutnya, kolaborasi perlu dibangun melalui hubungan jangka panjang, diversifikasi basis investor, peta jalan yang transparan, serta keseimbangan hubungan antara China dan negara-negara BRICS lainnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar negara-negara Global South tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Negara-negara tersebut perlu memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan arah industri dan pasar mineral kritis global.
“Perlu ada peningkatan kerja sama regional, serta upaya menjadikan BRICS dan pasar-pasar negara berkembang sebagai basis industri sekaligus pasar dari hilirisasi mineral kritis sendiri. Saya rasa itulah tujuan yang patut kita upayakan,” ujar Putra.
Sementara Rosana menambahkan, kekuatan negara-negara BRICS dapat digabungkan untuk membangun industri yang tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan pasar global. Pengembangan tersebut, menurutnya, harus tetap memperhatikan kesejahteraan pekerja, kedaulatan negara, peningkatan nilai tambah, serta dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas pertambangan.
“Kita bisa menyatukan kekuatan antara negara-negara BRICS untuk memproduksi barang yang juga dapat dikonsumsi oleh seluruh dunia, dengan model yang menghargai upah pekerja, kedaulatan negara, dan juga kebutuhan untuk meningkatkan nilai tambah,” katanya.
Dengan demikian, tantangan BRICS bukan lagi sekadar menguasai cadangan mineral kritis, melainkan memastikan sumber daya tersebut menjadi fondasi industri baru. Jika kerja sama regional mampu menghubungkan sumber daya, investasi, teknologi, dan pasar, BRICS berpeluang menggeser posisi negara-negara Global South dari pemasok mineral menjadi pemain utama dalam rantai nilai industri mineral kritis.









Tinggalkan Balasan