Peresmian Program BBM Satu Harga di SPBU Kompak 66.788.004 Desa Tanjung Satai, Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Rabu (17/6).

Jakarta, Petrominer – Kepala BPH Migas, M. Fanshurullah Asa, menyatakan optimis bisa mencapai target program BBM Satu Harga di tahun 2020 meski sedang terjadi pandemi Covid-19. Pemerintah mentargetkan 83 lokasi penyalur BBM Satu Harga bisa dibangun sampai akhir tahun ini.

“BPH Migas setiap minggu mengadakan rapat monitoring dan koordinasi secara online dengan Pertamina dan Pemerintah Daerah untuk memonitor progres pembangunan penyalur BBM Satu harga di 83 lokasi 3T,” ujar Fanshurullah Asa, yang biasa disapa Ifan, usai meresmikan Program BBM Satu Harga di SPBU Kompak 66.788.004 Desa Tanjung Satai, Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Rabu (17/6).

Dia menyatakan bersyukur dalam masa pandemi Covid-19 ini berhasil meresmikan SPBU Program BBM Satu Harga yang pertama di tahun 2020 di Pulau Maya, Kayong Utara. Tentunya, acara peresmian dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk pencegahan Covid-19.

Dalam peresmian itu, Ifan didampingi Bupati Kayong Utara, Citra Duani, dan Sales Area Manager (SAM) Ritel Kalbar PT Pertamina (Persero), Weddy Surya Windrawan.

Titik BBM Satu Harga perdana di tahun 2020 ini merupakan titik dan menjadi peresmian ke 171 sejak tahun 2017. Lokasi SPBU Kompak itu menggunakan tempat penyimpanan BBM, yakni sebuah kapal ponton (floating pump) dengan kapasitas 400 kilo liter (KL). Ini menjadi SPBU BBM Satu Harga pertama dengan sistem ponton yang dapat melayani kapal-kapal nelayan sekaligus juga untuk transportasi darat di wilayah 3T.

Menurut Ifan, untuk mengirim BBM ke SPBU Kompak ini tidaklah mudah. Pasalnya, BBM dipasok dari Supply Point Terminal BBM Pontianak yang berjarak ± 375 km atau 12 jam perjalanan darat atau 5 jam dengan menggunakan transportasi laut dalam sekali pengiriman.

Dengan diresmikan BBM Satu Harga ini, sebanyak 2.000 nelayan di Pulau Maya, Kayong Utara, kini merasakan dampak positif bagi perekonomian mereka. Peresmian fasilitas ini karena Pemerintah ingin mewujudkan keadilan ketersediaan, keadilan distribusi, dan keadilan harga di bidang energi dan ini tidak hanya jargon, tapi telah dibuktikan di Pulau Maya, Kayong Utara, Kalimantan Barat.

“Nelayan dan kapal motor milik nelayan yang sebelumnya membeli BBM ke pengecer dengan harga tinggi, kini mereka sudah bisa membeli BBM dengan harga sama dengan yang dijual di kota-kota, yakni Premium Rp 6.450 per liter, dan Solar Rp 5.150 per liter,” tegas Ifan.

Sementara untuk Kabupaten Kayong Utara sendiri, menurutnya, akan dibangun dalam waktu dekat di Kepulauan Karimata. Untuk itu, BPH Migas berharap agar Pemerintah dan Pertamina mempermudah pengurusan izinnya dan kami juga meminta kepada Bupati di wilayah 3T yang dibangun program BBM Satu Harga agar mendukungnya dengan mempermudah perijinan.

Pada kurun Tahun 2017-2019, BPH Migas telah berhasil mengawal dan melakukan supervisi pembangunan penyalur BBM Satu Harga dengan capaian sebanyak 170 lembaga penyalur, dengan penugasan kepada Pertamina sebanyak 160 penyalur dan PT AKR Corporindo Tbk sebanyak 10 penyalur.

Untuk Tahun 2020-2024, sesuai dengan arahan Presiden Jokowi bahwa Program BBM Satu Harga akan dilanjutkan dengan target sampai dengan akhir Tahun 2024 adalah terbangunnya 330 lembaga penyalur. Untuk Tahun 2020 akan dilakukan pembangunan 83 lembaga penyalur yang tersebar di 20 Provinsi, 70 Kabupaten, dan 83 Kecamatan. Dengan sebaran 13 penyalur di Sumatera, Kalimantan (13), NTB dan NTT (21), Sulawesi (7), serta Maluku dan Papua (29). Semua diberikan kepada Pertamina untuk melakukan pembangunan penyalur BBM Satu Harga tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here