Managing Director of Bosch Indonesia, Andrew Powell. (Petrominer/Sonny)

Surabaya, Petrominer – Bosch menyatakan siap memproduksi kendaraan listrik dalam rangka menyambut era elektrifikasi di Indonesia. Sebagai salah satu perusahaan perusahaan penyedia teknologi dan layanan global terkemuka, Bosch pun sudah memiliki divisi kendaraan listrik yakni Divisi Mobility Solutions.

Managing Director Bosch Indonesia, Andrew Powell, mengungkapkan pihaknya telah memiliki beberapa strategi untuk terjun ke industri kendaraan listrik. Apalagi, Bosch sebelumnya telah bekerja sama dengan produsen sepeda motor listrik dengan memasok motor penggerak.

“Divisi Mobility Solutions menghadirkan Electronic Control Unit (ECU) dengan label “Made in Indonesia” untuk pertama kalinya pada tahun 2018,” ujar Powell ketika menerima sejumlah media di kantor cabang Bosch Surabaya, Jum’at (18/10).

Dia menjelaskan, ECU tersebut diproduksi di fasilitas powertrain di Cikarang, Jawa Barat. Permintaan lokal untuk ECU berlanjut pada tahun 2019 dan perusahaan telah mendapatkan pesanan untuk beberapa tahun ke depan.

Bosch melihat ketersediaan infrastruktur untuk kendaraan listrik sebagai salah satu pendorong utama untuk adopsi teknologi di Indonesia. Pada tahun 2018, Bosch menjalin kemitraan dengan PT Pertamina (Persero) dalam pengaplikasian beberapa stasiun pengisian daya kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di SPBU Green Energy Pertamina, serta menyediakan unit stasiun pengisian untuk salah satu produsen EV di Indonesia.

“Langkah ini turut membantu mendekatkan Indonesia untuk mewujudkan ambisi jumlah kendaraan listrik beredar yang mencapai 20 persen dari total penjualan kendaraan domestik pada tahun 2025,” tegas Powell.

Indonesia adalah pusat produksi yang sedang tumbuh untuk segmen mobil penumpang. Saat ini, sebanyak 1,2 juta kendaraan penumpang diproduksi setiap tahun dan diperkirakan meningkat menjadi 1,6 juta pada tahun 2025.

“Bosch melihat potensi nyata untuk Indonesia dengan posisinya sebagai hub (pusat kegiatan) terbesar ketiga untuk pasar kendaraan roda dua di dunia (setelah Cina dan India), dengan total 107 juta sepeda motor beroperasi di jalan dan sekitar tujuh juta diproduksi di dalam negeri per tahunnya,” paparnya.

Saat ini, jelas Powell, pihaknya tengah mempelajari beberapa hal terkait kendaraan listrik di Indonesia, seperti regulasi, standarisasi hingga infrastrukturnya. Sejalan dengan itu, Bosch juga tengah mengembangkan teknologi baru untuk mendukung kendaraan listrik, baik full EV maupun hybrid EV.

“Kami terus berusaha untuk mengembangkan teknologi untuk mendukung kendaraan listrik, baik itu full EV, maupun hybrid EV,” tegas Powell.

Dia memberi contoh proyek sepada motor listrik yang sedang dikerjakan, dengan menggaet perusahaan penyedia body sepeda motor listik asal China, yang bernama “AIMA”. Melalui kerjasama tersebut, Bosch dapat mewujudkan ambisinya dalam pembuatan sepeda motor listrik yang bisa digunakan secara konvensional.

Pada saat acara Getting Closer With Bosch di Surabaya, Bosch membawa motor listik tersebut langsung dari China. PETROMINER mendapat kesempatan untuk mencoba langsung sepeda motor listrik besutan Bosch dan AIMA tersebut.

Sepeda motor listrik rancangan dari Bosch. (Petrominer/Sonny)

Motor tersebut, seperti dijelaskan oleh salah seorang peneliti motor listrik dari Bosch, dapat melaju hingga 45 km per jam. Jarak jelajah yang dapat ditempuh untuk sekali pengecasan (isi baterai) dapat mencapai kurang lebih 80 km (tergantung pada penggunaan). Sementara untuk sekali pengecasan, dibutuhkan waktu 4 – 5 jam saja.

Untuk pasar Indonesia, sepada motor listrik tersebut belum bisa dipasarkan. Namun di China, sepeda motor listrik tersebut sudah digunakan secara konvensional oleh masyarakat di sana. Dan bukannya tidak mungkin, sepeda motor listrik tersebut pun bisa segera melenggang di jalanan Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here