,

Berkunjung ke Lokasi Pelestarian Elang Bondol

Posted by

Jakarta, Petrominer – Elang Bondol (Haliastur Indus) merupakan salah satu satwa maskot Provinsi DKI Jakarta. Namun hewan endemik dengan ciri khan warga putih di kepala hingga sebagian dada itu terancama punah. Bahkan di habitatnya di Kepulauan Seribu sudah jarang terlihat.

Kondisi ini telah mendorong Pemerintah untuk melindungi Elang Bondol. Hewan endemik ini pun dilindungi UU No.5 Tahun 1990 dan diatur dalam PP No.106 Tahun 2018.

Melihat populasinya diambang kepunahan, lembaga Jakarta Animal Aid Network (JAAN) melakukan konservasi Elang Bondol sejak tahun 2005. Program yang dilakukan yakni sanctuary (suaka) bagi Elang Bondol, dengan kondisi fisik beragam. Fasilitas tersebut dipusatkan di Pulau Kotok, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, utara Jakarta.

Untuk menuju Pulau Kotok, harus menempuh perjalanan sekitar 60 menit menggunakan kapal cepat dari penyebarangan di dermaga Marina Ancol. Setibanya di pulau tersebut, pengunjung akan disambut dengan kandang raksasa bertuliskan Sanctuary. Yakni kandang berisi beberapa Elang Bondol yang cacat sehingga tidak bisa dilepasliarkan lagi.

Menurut Benvika, salah seorang pengurus JAAN, kandang tersebut menampung Elang Bondol yang mengalami patah sayap sehingga tidak bisa terbang. Ada juga yang matanya luka karena terkena jaring penangkap burung.

“Elang ini sitaan dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang melalukan operasi di beberapa daerah. Mereka dipelihara manusia di dalam sangkar yang sempit, sehingga berisiko sayap patah. Bahkan dengan menjadi binatang peliharaan, membuat Elang Bondol kehilangan nalurinya menangkap ikan hidup,” jelas Benvika.

Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok dibagi dalam beberapa bagian. Yakni apabila Elang Bondol kondisi fisiknya baik, akan masuk ke kelompok treatment 1 yakni berada dalam kandang besar. Di kandang ini, burung tersebut diberi pakan ikan mati dalam kolam buatan.

Secara bertahap, Elang Bondol akan diberi pakan ikan hidup. Ini untuk merangsang naluri berburu ikan, yang sangat berguna saat nanti dilepas ke alam bebas.

Jika lulus, Elang Bondol akan masuk dalam kelompok treatment 2. Di kelas ini, Elang Bondol sudah mulai agresif dan diberi pakan ikan hidup. Elang akan dipisah satu sama lain.

Selanjutnya Elang Bondol akan dibawa ke kelompok SOS 2 atau tempat sosialisasi. Di dalam area SOS 2, tidak boleh terdengar suara manusia, atau kegaduhan. Di kandang semi terbuka ini, Elang Bondol dites kemampuannya hidup mandiri, untuk selanjutnya dilepasliarkan.

Tidak semua orang bisa mengunjungi pusat konservasi Elang Bondol tersebut. Karena, harus seijin BKSDA DKI Jakarta dan JAAN, selaku lembaga yang menangani perawatan unggas maskot Jakarta tersebut.

Namun demikian, untuk mendukung pengenalan satwa langka ini, PT Pertamina (Persero) dan JAAN menggelar program Sahabat Semata, yakni mengajak Duta Elang Bondol untuk datang dan melihat langsung habitat Elang di Pulau Kotok. Duta Elang Bondol merupakan pelajar SMA dan Universitas di DKI Jakarta.

“Mereka nantinya diharapkan bisa menjadi motor penggerak pengenalan Satwa Maskot Jakarta kepada teman-teman maupun komunitas millennial,” ujar Unit Manager Communication Relation & CSR Pertamina MOR III, Dewi Sri Utami, Rabu (14/8).

Menurut Dewi, sejak tahun 2017, Pertamina telah menggandeng JAAN untuk menjaga populasi Elang Bondol. Melalui Terminal BBM Jakarta Group, Pertamina mendukung konservasi satwa yang dijuluki layang-layang sang Brahma tersebut dengan menyokong dana perawatan lebih dari Rp 1 miliar. Sebagiannya merupakan dana yang dihimpun dari pendaftaran kegiatan Ecorun 2018, sebesar lebih dari Rp 500 juta.

“Bantuan Pertamina itu diwujudkan dalam beberapa kegiatan diantaranya renovasi kandang elang, pembangunan gapura (pintu masuk) Pusat Sanctuary Elang Bondol, dan perawatan. Komitmen kami terhadap pelestarian maskot ibukota Jakarta Elang Bondol masih berlanjut hingga saat ini,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *