Jakarta, Petrominer – Sebagai subholding gas dan bagian dari holding PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menyambut positif rencana transformasi holding migas oleh Pertamina. Untuk itu, PGN mempersiapkan diri dengan peningkatan kompetensi teknis yang diharapkan mampu membekali para pekerja untuk menjawab tantangan peran sebagai subholding gas.

Direktur Sumber Daya Manusia Pertamina, Koeshartanto, menjelaskan bahwa transformasi holding migas merupakan lokomotif untuk mencapai aspirasi Pertamina Group tahun 2024, yaitu sebagai Global Energy Champion dengan market value sebesar US$ 100 miliar, dan menjalankan mandat dari pemerintah terkait dengan penyediaan dan pengelolaan energi sesuai dengan Undang-Undang BUMN maupun Undang-Undang Energi.

“Pertamina Group telah menyusun strategi pengelompokan bisnis energi yang terintegrasi dengan PGN. Hal ini untuk memberikan porsi agar bisnis perusahaan lebih efisien dan memastikan efektivitas yang berkelanjutan di masa mendatang” ujar Koeshartanto dalam Forum Leader’s Talk PGN dengan tema Transformasi Holding Migas yang dilaksanakan secara virtual, Rabu (22/7).

Melalui tranformasi holding migas, jelasnya, PGN Group juga akan lebih fokus pada bisnis utama secara berkelanjutan, yaitu mengoptimalkan sumber energi gas domestik, memperkuat pasar dan ketahanan gas bumi domestik. Dengan begitu, Indonesia diharapkan bisa mendapatkan infrastruktur gas bumi yang lebih baik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.

Namun, Koeshartanto menegaskan bahwa transformasi tidaklah mudah. Apalagi, berdasarkan Mckinsey Company, banyak perusahaan telah melakukan transformasi namun tingkat keberhasilannya hanya sekitar 16 persen, sehingga dukungan internal yang solid menjadi bagian yang sangat penting.

“Kami ingin Pertamina, PGN dan subholding-subholding lainnya dapat menjadi suatu kesatuan yang bisa dilaksanakan dengan benar, sesuai rencana yang benar, dan membuahkan hasil yang luar biasa,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur SDM dan Umum PGN, Beni Syarif Hidayat, menegaskan bahwa PGN mendukung tujuan holding migas untuk menciptakan infrastruktur gas yang terintegrasi dan mempercepat pertumbuhan value dari seluruh bagian dari holding. Dengan begitu, manfaat gas bisa segera diintegrasikan dengan acceptability, affordability, dan availability guna memudahkan dan pemerataan akses gas kepada konsumen di seluruh sektor.

Apalagi, jelas Beni, PGN sebagai subholding gas mendapat amanah untuk mendukung program-program Pemerintah. Di antaranya adalah perluasan utilisasi gas bumi melalui penetapan harga untuk industri tertentu, pengembangan jaringan gas rumah tangga, penyediaan dan pembangunan infrastruktur LNG bagi pembangkit listrik, dan lain-lain. Oleh karena itu, PGN membutuhkan dukungan dan penguatan kualitas SDM.

“Penguatan kompetensi manajerial pekerja merupakan bagian dari investasi human capital PGN dalam menghadapi tantangan perubahan yang sangat cepat dalam bisnis dan industri saat ini. Oleh karena itu Forum Leader’s Talk adalah salah satu wadah untuk mempersiapkan SDM PGN dalam menghadapi hal tersebut,” ungkapnya.

Forum Leader’s Talk, menurut Beni, menjadi ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman dari para pemimpin baik pemimpin institusi pemerintahan, bisnis, maupun institusi sosial. Harapannya, para pemimpin tersebut dapat menginspirasi para pekerja PGN untuk paham, berfikir dan bertindak sebagaimana layaknya seorang pemimpin dalam menjalankan fungsi dan perannya di PGN.

Sementara Ketua Serikat Pekerja PGN, M. Rasyid Ridha, menyampaikan harapannya agar proses transformasi ini membawa kepada akselerasi tercapainya visi misi organisasi holding migas, termasuk pencapaian target kinerja di bidang SDM dan talent movement dalam lingkup holding migas yang pada ujungnya akan membawa manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Direktur SDM Pertamina, Koeshartanto.

Right Issue

Ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta Leaders Talk, dan Koeshartanto pun menjabawanya dengan lugas. Ditanyakan, “dengan berkaca pada kesuksesan program IPO PGN pada awal tahun 2003, apakah ada rencana manajemen holding migas atau subholding gas untuk menerbitkan right issue?”

Menurutnya, right issue dan corporate action lainnya adalah proses yang transparan dan murni mekanisme pasar yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun. Hal ini dilakukan dalam upaya menjaga compliance dan governance serta pengawasan banyak pihak termasuk otoritas keuangan.

Koeshartanto berharap dari sisi internal pekerja akan semakin meningkatkan engagement dan mempersatupadukan pencapaian visi misi holding migas dan subholding gas. Sementara dari sisi eksternal dapat meningkatkan kepercayaan para pemegang saham.

“Jadi bagus dan luar biasa ini anak-anak PGN bentuk rasa memiliki terhadap perusahaan. Maunya punya saham perusahaannya. Restrukturisasi holding migas dapat menjadi medium untuk meningkatkan peran dan engagement internal PGN untuk berkontribusi lebih lagi pada kinerja perusahaan. Khususnya ketika perusahaan sangat memerlukan dukungan internal dari para pekerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa pembelian saham oleh pekerja adalah bagian atas kontribusi untuk meningkatkan performa perusahaan. Upaya ini sekaligus memperat solidaritas, loyalitas serta rasa memiliki pekerja terhadap perusahaan.

Apalagi, banyak perusahaan global yang menawarkan saham kepada pekerjanya agar sense of belonging pekerja terhadap perusahaan semakin kuat. Dengan begitu, pekerja yang memiliki saham bisa berkinerja lebih maksimal dan benefitnya pun akan dirasakan oleh pekerja maupun perusahaan.

Proses ini juga memperkuat keterbukaan informasi. Dengan keterbukaan informasi, maka dapat meningkatkan kepercayaan investor. Investor menjadi partner strategis, sehingga sharing ekonomi ini menjadi kesempatan bagi PGN untuk membangun kolaborasi, kapabilitas dan kapasitas worldwide dan menggandeng partner strategis lainnya.

“Saya rasa ini menjadi semangat yang luar biasa dan bisa ditularkan di Pertamina Group. Menjadi catatan bagi kami (Pertamina) mengingat pada mekanisme right issue terdapat banyak hierarki yang harus dilalui dan menyangkut pertimbangan teknis keuangan. Bagaimana dampaknya terhadap target kinerja emiten dan dampaknya untuk mendorong PGAS menjadi blue chip masih perlu kajian,” ujar Koeshartanto.

Dia juga menyatakan bahwa PGN bisa menjadi role model bagi gerakan kemajuan Pertamina. Pasalnya, PGN adalah subholding pertama Pertamina Group yang sudah berstatus terbuka, sehingga transparansi akuntabilitas kinerja menjadi bagian yang akan selalu menjadi kelebihan sebagaimana persyaratan untuk menjadi perusahaan Tbk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here