Jakarta, Petrominer – Badan Geologi Kementerian ESDM terus memantau perkembangan aktivitas Gunungapi Semeru pasca erupsi. Pemantauan dilakukan selama 24 jam setiap harinya dan segera dilaporkan apabila ada perubahan berdasarkan data seismik dan pengamatan visual.
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Andiani, sejak Senin tengah malam telah terjadi tiga kali Awan Panas Guguran (APG) dengan jarak luncur sekitar 3 kilometer (km). Kejadian tersebut juga disertai beberapa gempa permukaan.
“Gunung Semeru pada hari ini, dari pukul 00.00 sampai sore ini (17.30 WIB), telah terjadi APG sebanyak tiga kali dengan jarak luncur lebih kurang 3 km dari puncak gunungapi. Ini juga disertai gempa-gempa permukaan,” ungkap Andiani pada Konferensi Pers Update Erupsi Gunungapi Semeru dari Lokasi Bencana yang digelar secara daring, Selasa (7/12).
Andiani beserta tim telah mengunjungi daerah terdampak, khususnya daerah Besuk Kobokan yang merupakan daerah aliran APG pada erupsi Sabtu lalu. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memetakan material pascaerupsi untuk dijadikan dasar dalam memperbarui peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunungapi Semeru.
“Kami tadi melakukan kunjungan ke lapangan, terutama daerah Besuk Kobokan yang merupakan daerah aliran APG kemarin. Tujuannya adalah untuk melakukan orientasi. Ada upaya kami untuk meng-update peta KRB Gunungapi Semeru yang sudah ada, sehingga kita mengetahui apakah ada perubahan,” jelasnya.
Dari material yang ada, Badan Geologi akan melakukan pemetaan dan dijadikan dasar untuk memperbarui peta KRB Gunungapi Semeru. Peta terbaru ini diharapkan bisa digunakan sebagai acuan oleh Pemerintah Daerah dan stakeholder yang memiliki kepentingan dalam perkembangan wilayah Semeru.
Peta KRB ini didasarkan pada hasil pemetaan di lapangan, yakni pemetaan batuan produk erupsi gunungapi tersebut. Material yang dipetakan dapat menjadi dasar untuk menentukan sejauh mana dan wilayah mana saja yang terancam oleh erupsi gunungapi tersebut.
“Peta KRB bersifat dinamis, maka dari itu perlu kita lakukan pemetaan kembali. Updating ini dalam rangka untuk menghaluskan, karena peta kami saat ini masih di skala 1:50.000, kami ingin membuat lagi di skala 1:25.000 sehingga ini nanti akan lebih detail untuk acuan ke depannya. Kalau ada hasil pemetaan baru, akan kami sampaikan ke Pemerintah Daerah,” jelas Andini.
Sementara itu, Sekretaris Badan Geologi, Ediar Usman, menjelaskan bahwa selain memperbarui peta KRB, Badan Geologi juga tengah menjajaki teknologi guna menghitung volume material yang berada di puncak Gunungapi Semeru. Teknologi yang tepat diperlukan karena karakteristik setiap gunung dan kondisi alam setempat yang berbeda-beda.
“Sambil menghitung volume material di atas, kita saat ini menjajaki dan melihat teknologi yang paling pas untuk Gunungapi Semeru ini seperti apa, karena tipikal setiap gunung berbeda-beda. Kita sesuaikan dengan kondisi alam setempat. Untuk memudahkan juga di dalam pengoperasiannya nanti,” ujar Ediar.
Saat ini, masyarakat masih tetap diimbau untuk menghindari zona rawan bencana, yakni pada radius 1 km dari puncak dan 5 km dari bukaan kawah di arah selatan dan tenggara. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menghindari daerah yang terdampak APG dan daerah sungai yang berhulu di puncak Gunungapi Semeru, karena masih terdapat potensi terjadinya APG dan banjir lahar dingin.
Informasi terkini dan peta KRB Gunungapi Semeru dapat diakses melalui aplikasi/website MAGMA Indonesia (magma.vsi.esdm.go.id), website resmi PVMBG (vsi.esdm.go.id), dan media sosial PVMBG (Facebook, Twitter, dan Instagram).








Tinggalkan Balasan