Rantau, Petrominer – Para perwira Pertamina EP Rantau berhasil mengembangkan sebuah inovasi untuk menekan resiko kehilangan produksi (loss production) akibat masalah kepasiran. Inovasi tersebut berupa alat bernama USAT (Ultimate Sand Trap).
Aksesori USAT ini dipasang di tengah lapisan tubing pompa. Dampaknya pun sangat besar, yakni mampu menghindarkan biaya tambahan. Tidak hanya itu, inovasi ini juga berhasil menambah pendapatan hingga milyaran rupiah.
Field Manager (FM) Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menjelaskan sumur-sumur migas yang telah mature di lapangan Rantau kerap menghadapi masalah kepasiran. Di mana, pasir ikut naik bersama aliran fluida yang mengakibatkan kerusakan pada pompa maupun tidak optimalnya minyak mentah (crude oil) yang terangkut.
“Sebelumnya, inovasi yang diterapkan untuk mengatasi masalah kepasiran adalah We Are Fines di tahun 2023. Kemudian USAT dikembangkan dan diaplikasikan sejak tahuun 2024 untuk melengkapi inovasi sebelumnya. Dengan begitu masalah kepasiran di beberapa aspek bisa teratasi,” terang Tomi, Kamis (26/2).
Saat ini, metode We Are Fines sudah diterapkan di seluruh sumur minyak dalam pengelolaan PEP Rantau Field. Sementara teknologi USAT hingga September 2025 telah diterapkan di tiga sumur (P-420, P-383, dan P-406).
“Tadinya, sebelum diterapkan We Are Fines dan inovasi USAT, angka resikonya mencapai 62 persen. Kami optimistis, dengan penerapan menyeluruh, ini akan meningkatkan penghematan yang semakin meningkat di tahun 2025,” katanya.
Lebih lanjut, Tomi menjelaskan inovasi USAT hadir sebagai teknologi yang bertujuan meningkatkan lifetime atau masa operasi pompa yang memiliki masalah kepasiran dengan menambahkan aksesoris pada pompa Electric Submersible Pump (ESP). Dalam praktiknya, pompa ESP dapat mengalami kerusakan dikarenakan pasir ikut naik ke permukaan bersama aliran fluida.
Inovasi pada pompa ESP ini penting. Pasalnya, dari 87 sumur di PEP Rantau Field, 29 di antaranya menggunakan pompa ESP.
Melalui inovasi USAT, tim menambahkan aksesoris USAT di tengah lapisan tubing pompa. Aksesoris USAT ini akan menahan pasir di dalam sumur yang mengalami fallback. Dengan cara ini, pasir tidak akan jatuh atau masuk ke pompa namun terjatuh pada sela antara USAT dengan tubing.
Dengan begitu, pompa tetap beroperasi dengan baik untuk mengalirkan fluida ke permukaan. Bahkan dengan USAT, pompa dapat melakukan reserve circulating apabila tersumbat.
Hemat Biaya
Petroleum Engineering PEP Rantau Field, Andi Surianto Sinurat, menjelaskan bahwa produksi USAT tidak mahal. Setiap aksesoris biayanya tidak kurang dari Rp 3 juta dengan estimasi masa pakai selama satu tahun. Biaya ini digunakan untuk biaya material dan biaya manpower (tenaga kerja).
“Material yang diperlukan untuk merakit USAT antara lain mata bor, tubing, tubing coupling, dan kawat. Proses pengerjaan juga tidak lama, hanya tiga hari,” ungkap Andi, selaku anggota tim pengembangan inovasi We Are Fines dan USAT.
Ketika dikalkulasi, dampaknya cukup signifikan. Terhitung sejak Januari 2024 hingga September 2025, ada penghematan biaya rig sebesar 50 persen dan mengurangi loss produksi sumur sebesar 4 persen persen. Dengan begitu, produksi dan pendapatan pun bertambah.
Andi menegaskan, inovasi We Are Finest dan USAT tak hanya memberikan manfaat dari aspek penghematan biaya rig dan perawatan sumur, serta penambahan pendapatan. Lebih dari itu, kedua inovasi ini terbukti mampu mengatasi masalah kepasiran di sumur-sumur minyak Pertamina yang dikelola PEP Rantau Field.
Atas keberhasilan Inovasi USAT, Pertamina EP Rantau lewat tim PC Prove Alumni Pasir memperoleh penghargaan Platinum pada ajang Upstream Improvement & Innovasi Award (UIIA) 2025 Subholding Upstream Pertamina. Ajang tahunan bagi insan-insan inovatif ini diikuti 108 delegasi terbaik dari seluruh Subholding Upstream.








Tinggalkan Balasan