Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, saat menjelaskan kesiapan Indonesia sebagai penyelenggara Konferensi Regional Pembangunan Industri atau Regional Conference on Industrial Development (RCID) 2021, Senin (8/11).

Jakarta, Petrominer – Menghadapi isu krisis energi yang melanda belakangan ini, Pemerintah telah mensikapinya dengan sesegera mungkin melakukan transformasi energi. Dari yang sebelumnya bergantung kepada energi fosil, kini lebih banyak memanfaatkan energi yang lebih ramah lingkungan, yakni energi baru dan terbarukan (EBT).

Karena itulah, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan yakin Pemerintah Indonesia bisa mengantisipasi krisis energi yang belakangan ini dialami hampir seluruh negara di dunia. Pasalnya, saat ini suplai energi listrik dari PLN mengalami surplus.

“Kami dari Kemenperin mendorong sepenuhnya agar proses transformasi energi segera terlaksana, seperti misalnya dengan mendukung percepatan implementasi program biodiesel B30 dan B50. Ada semangat (spirit) dari para investor, yakni kita sama-sama mengembangkan energi yang ramah lingkungan,” papar Agus saat menjelaskan kesiapan Indonesia sebagai penyelenggara Konferensi Regional Pembangunan Industri atau Regional Conference on Industrial Development (RCID) 2021, Senin (8/11).

Bersama-sama dengan DPR, menurutnya, Kemenperin juga secara aktif terlibat dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang mengenai EBT. Selain itu, Kemenperin sudah menyiapkan satu kawasan industri yakni Green Industrial Park, yang terletak di Provinsi Kaltara (Kalimantan Utara).

“Di wilayah tersebut terdapat sungai-sungai yang cukup besar dengan arus sungai yang cukup baik, sehingga berpotensi besar dijadikan hydro power. Dengan mendorong hal-hal seperti ini, maka menurut pandangan kami ancaman dari gangguan ketersediaan listrik ke depan dapat dilihat dari kacamata energi listrik yang berbasis ramah lingkungan,” ungkap Agus.

Tema Besar

RCID akan digelar pada 10-11 November 2021 secara hybrid atau kombinasi antara kehadiran fisik dengan pertemuan secara virtual, dengan mengundang pejabat tinggi di bidang perindustrian dari 26 negara. Rencananya akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo. Ini merupakan penyelenggaraan kedua kalinya, setelah sukses digelar tahun 2018 lalu.

Penyelenggaraan kali ini mengangkat empat tema besar, yaitu peningkatan partisipasi Industri Kecil Menengah (IKM) pada rantai pasok global atau Global Value Chains (GVC), penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), strategi transisi industri menuju industri hijau dan ekonomi sirkular, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Selanjutnya, RCID juga akan membahas topik-topik meliputi ekosistem transformasi digital, masalah inklusivitas dan keberlanjutan, serta upaya kerja sama regional untuk mempercepat adopsi Industri 4.0.

Konferensi yang akan diikuti oleh negara-negara di kawasan Asia Pasifik ini digelar bersama United Nations Industrial Development Organization (UNIDO). Tema utama yang diusung “Percepatan Industri 4.0 untuk Industrialisasi yang Inklusif dan Berkelanjutan.”

“Penyelenggaraan RCID ke-2 ini akan menjadi tonggak penting menuju persiapan diskusi G20 yang akan berlangsung tahun 2022 di bawah Kepresidenan G20 Indonesia. Penyelenggaraan RCID ke-2 berfokus pada tantangan dan peluang penerapan Industri 4.0 di kawasan Asia Pasifik pada masa pandemi Covid-19,” jelas Agus.

Penyelenggaraan konferensi ini mengawali persiapan pertemuan Trade Industry and Investment Working Group (TIIWG) G-20 yang akan berlangsung pada tahun 2022 sebagai rangkaian dari Presidensi Indonesia di G20, bertema “Recover Together, Recover Stronger.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here