Handil, Kutai Kertanegara, Petrominer – PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) terus berupaya untuk mempercepat pengembangan Lapangnan YY. Ini dilakukan sebagai upaya mendukung peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional.
Senin (25/3), anjungan (rig) YYA yang dipesan Kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) ini telah diberangkatkan (sail away) menuju lepas pantai utara Jawa Barat. Tahapan pabrikasi anjungan YYA dilakukan oleh kontraktor EPCI PT Meindo Elang Indah di Handil-1 Fabrication Yard, Kalimantan Timur.
Seremoni sail away Anjungan YYA dihadiri oleh Perwakilan SKK Migas, Jajaran Direksi Pertamina Hulu Energi, dan Manajemen PHE serta PHE ONWJ.
Menurut General Manager PHE ONWJ, Siswantoro M. Prasodjo, perjalanan menuju lokasi pemasangan akan memakan waktu sekitar 7-9 hari. Dengan begitu, pada awal April 2019, pemasangan Anjungan YYA yang terdiri atas pile, jacket, dan topside termasuk boat landing anjungan sudah dapat dilakukan.
Anjungan YYA direncanakan terdiri dari tiga sumur dan slot dua sumur tambahan untuk antisipasi drilling pada masa mendatang.
“Kami berharap pengembangan lapangan YY sesuai dengan timeline,” ujar Siswantoro.
Secara paralel dalam waktu yang bersamaan yaitu sejak Januari hingga Pebruari 2019, telah terlebih dahulu dilakukan pemasangan pipa penyalur bawah laut sepanjang 13,5 km dari lokasi rencana Anjungan YYA ke Anjungan KLB. Pipa bawah laut tersebut akan digunakan untuk menyalurkan migas ke Anjungan KLB.
Selanjutnya minyak akan dialirkan ke central plant untuk pemprosesan dan dialirkan ke FSO Arco Arjuna. Sedangkan gas akan disalurkan ke Anjungan Mike-Mike dan kemudian ke Muara Karang untuk didistribusikan ke konsumen.
Kepala Divisi Manajemen Proyek dan Pemeliharaan Fasilitas SKK Migas, Luky Agung Yusgiantoro, menjelaskan Proyek YY adalah salah satu proyek yang secara ketat dipantau SKK Migas karena akan onstream tahun 2019 ini dan memberikan kontribusi dalam mencapai target produksi.
“Apabila dimungkinan kita akan mendukung mendorong agar proyek ini dapat selesai lebih cepat,” tegas Luky.
Sementara Direktur Utama PHE, Meidawati, menyatakan bahwa proses pabrikasi Anjungan YYA yang tepat waktu membuktikan PHE ONWJ telah menerapkan gross split dengan tepat, sehingga segala sesuatunya lebih efisien. Sebagai KKKS pertama di Indonesia menerapkan skema gross split, ini juga membuktikan PHE ONWJ tetap semangat untuk terus meningkatkan produksi migas nasional.
Sejak dimulainya tahap pabrikasi bulan Agustus 2018 lalu, milestone pengembangan Lapangan YY diharapkan memenuhi OTOBOSOR (on time, on budget, on scope and on return) dan tentunya tetap mengedepankan aspek keselamatan, kesehatan dan lindung lingkungan dalam pelaksanaanya.
Proyek ini direncanakan berproduksi akhir September 2019. Alokasi biaya telah dipatok sebesar US$ 85,4 juta untuk mengembangkan potensi cadangan migas yang cukup besar, yakni minyak mencapai 4 MMBO dan gas 21,2 BSCF.
Lapangan YY diharapkan bisa menyumbang tambahan produksi minyak sebesar 4.065 BOPD dan gas bumi mencapai 25,5 MMSCFD. Produksi dari Lapangan YY akan digunakan seluruhnya untuk kepentingan dalam negeri sehingga menjadi pendorong roda perekonomian industri di sekitar wilayah kerja PHE ONWJ.









Tinggalkan Balasan