Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Plt. Dirjen Industri Agro Achmad Sigit Dwiwahjono bersama Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman meninjau stan salah satu peserta Bazar Lebaran 2019 di Kementerian Perindustrian, Selasa (21/5).

Jakarta, Petrominer – Industri makanan dan minuman terus berupaya menambah pasar tujuan ekspor non tradisional guna membantu pemerintah mengurangi defisit perdagangan. Salah satunya ke negara Amerika Latin dan Afrika, meski produk ekspor Indonesia di negara-negara tersebut masih dikenai bea masuk 30 persen.

“Sebenarnya permintaan di negara tujuan ekspor Amerika Latin dan Afrika masih tinggi, khususnya untuk produk makanan dan minuman. Namun tarif bea masuk yang dikenakan dan biaya transportasi masih tinggi. Itu sebabnya kita perlu meningkatkan lagi berbagai perjanjian dagang untuk mengatasi hal tersebut,” ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI), Adhi S. Lukman, di sela-sela pembukaan Bazaar Lebaran di Kementerian Perindustrian, Selasa (21/5).

Adhi menjelaskan bahwa Pemerintah sudah mulai menjalin perjanjian dagang dan investasi dengan negara-negara Amerika Latin, salah satunya dengan Chili melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Chili (IC-CEPA) yang baru diteken bulan Mei 2019 ini. Sementara dengan negara-negara Afrika, Indonesia mulai menggarapnya dalam bentuk kerangka kerjasama Prefential Tariff Agreement (PTA).

Hal senada juga disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Dia menegaskan bahwa Pemerintah terus berupaya menjalin kerjasama dan meningkatkan ekspor ke negara-negara non tradisional.

“Pemerintah juga terus berupaya menggalakkan ekspor dengan percepatan penyelesaian kerja sama perdagangan dengan negara-negara mitra serta meningkatkan ekspor ke negara-negara non-tradisional. Selain itu, Pemerintah juga mendorong penumbuhan industri antara, agar dapat mengurangi ketergantungan impor,” jelas Airlangga.

Dia mengemukakan, meski neraca perdagangan secara nasional mengalami defisit pada triwulan I-2019, namun ada beberapa sektor industri yang masih menghasilkan neraca perdagangan positif. Di antaranya adalah industri makanan dan minuman dengan ekspor US$ 6,4 miliar dan impor US$ 2,38 miliar, industri tekstil dan pakaian jadi dengan ekspor US$ 3,38 miliar dan impor US$ 2,03 miliar.

“Dalam kebijakan ke depan, Pemerintah fokus menggenjot kinerja industri manufaktur karena akan menjadi sektor andalan atau menjadi faktor daya ungkit bagi perekonomian nasional,” ujar Airlangga.

Sejumlah sektor industri manufaktur memang terbukti mampu mencatatkan kinerja positif di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2019. Hal ini ditunjang oleh komitmen dan kebijakan pemerintaah saat ini dalam mewujudkan iklim usaha yang kondusif.

Sektor manufaktur yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 18,98 persen. Disusul industri pengolahan tembakau yang tumbuh hingga 16,10 persen, kemudian industri furnitur tumbuh 12,89 persen serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh 11,53 persen.

Kinerja positif juga diikuti oleh industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman yang mengalami pertumbuhan 9,22 persen, industri logam dasar tumbuh 8,59 persen, serta industri makanan dan minuman tumbuh 6,77 persen. Sektor-sektor manufaktur ini mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan I-2019 yakni 5,07 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here