Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menambah alokasi biodiesel sebesar 213.033 kilo liter (KL) untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir tahun 2021. Dengan begitu, alokasi biodiesel tahun ini menjadi 9.413.033 KL.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana mengatakan keberhasilan program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh Pemerintah telah membuat aktivitas masyarakat berangsur pulih menuju kembali pada kondisi normal. Pemulihan itu pun berdampak pada peningkatan kebutuhan BBM.
“Keberhasilan program PPKM telah membuat aktivitas masyarakat berangsur pulih. Hal ini juga berdampak pada peningkatan kebutuhan/demand BBM, termasuk solar yang mulai menunjukkan tren meningkat sejak September 2021,” ujar Dadan di Jakarta, Selasa (30/11).
Menurutnya, dari alokasi awal biodiesel sebesar 9,2 juta KL hingga minggu keempat bulan November 2021, sudah terealiasi sebesar 8,08 juta KL atau 87,9 persen dari total alokasi. Untuk itu, Kementerian ESDM telah menetapkan tambahan alokasi biodiesel sebesar 213.033 KL, atau menjadi 9.413.033 KL untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan akhir 2021.
Ketetapan ini tecantum dalam Keputusan Menteri ESDM No. 149.K/EK.05/DJE/2021, tanggal 30 November 2021.
Alokasi Tahun 2022
Sedangkan untuk tahun 2022, Kementerian ESDM menetapkan alokasi biodiesel sebesar 10.151.018 KL. Ini dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 150.K/EK.05/DJE/2021, tanggal 30 November 2021 tentang Penetapan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel serta Alokasi Besaran Volume untuk Pencampuran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode Januari-Desember 2022.
“Untuk penyaluran program biodiesel pada tahun 2022 akan didukung oleh 22 badan usaha (BU) BBM dengan kapasitas terpasang sebesar 15.493.187 KL dan kemampuan produksi tahunan sebesar 13.527.527 KL,” jelas Dadan.
Penetapan alokasi tahun 2022 tersebut, diambil berdasarkan realisasi impor minyak solar dan realisasi penyaluran biodiesel tahun 2021, asumsi pertumbuhan demand 5,5 persen, dan estimasi demand solar tahun 2020 sebesar 33,84 juta KL. Dengan begitu, kebutuhan alokasi biodiesel di tahun 2022 diestimasikan sebesar 10,1 juta KL.
“Pemerintah berharap penyaluran biodiesel tahun 2022 dapat dilakukan dengan lebih efisien dan meminimalkan terjadinya keterlambatan atau gagal supply (B0),” tegasnya.
Pemerintah pun telah melakukan beberapa perbaikan antara lain melalui pembagian alokasi dengan memperhitungkan kinerja BU BBN dalam melakukan penyaluran biodiesel periode 1 November 2020 hingga 31 Oktober tahun 2021, dan mengupayakan agar setiap tiap titik serah minimal ada dua BU BBN yang mensuplai, menyiapkan formula penentuan Ongkos Angkut. Pemilihan BU BBN dan BU BBM ini berdasarkan optimalisasi rute sehingga Ongkos Angkut menjadi efisien.
“Pemerintah juga telah membuat aplikasi pengawasan distribusi BBN secara online untuk mempermudah mitigasi jika terjadi potensi B0 di suatu titik serah,” jelas Dadan.
Sesuai dengan tahapan pelaksanaan Mandatori Biodiesel yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri ESDM No. 12 tahun 2015, Pemerintah resmi mengimplementasikan program mandatori pencampuran 70 persen solar dengan 30 persen biodiesel (Program B30) pada 1 Januari 2020. Program ini menjadi salah satu program prioritas nasional untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mencapai transisi energi bersih, khususnya di sektor transportasi.









Tinggalkan Balasan