Jakarta, Petrominer — Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia, Haryajid Ramelan, mengatakan, rencana akuisisi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk oleh PT Pertamina (Persero), yang dibungkus dengan cara pembentukan holding energi, dikhawatirkan bisa mengganggu dan menghambat pengembangan infrastruktur gas bumi di Indonesia yang selama ini dilakukan oleh PGN. Pasalnya, BUMN gas ini menjadi kurang leluasa dalam usahanya melakukan pengembangan bisnis.
“Dengan adanya akuisisi ini, saya khawatirnya kok nantinya PGN akan tidak leluasa mengembangkan bisnis,” kata Haryajid, Senin (11/7).
Kekhawatiran tersebut muncul karena bila PGN menjadi anak usaha Pertamina yang dibalut dengan bungkus holding energi ini resmi terbentuk nanti, maka akan ada perubahan proses bisnis di PGN, terutama dalam hal pengambilan keputusan terkait penentuan langkah strategis pengembangan usaha.
“Waktu masih sendiri, untuk mengambil langkah bisnis PGN cukup bahas sendiri di internalnya. Nah dengan adanya akuisisi ini, PGN harus mendapat persetujuan dari Pertamina sebagai induk usahanya. Dengan begitu, proses pengambilan keputusannya menjadi lebih lama,” tuturnya.
Dampak negatif lainnya dari akuisisi PGN oleh Pertamina, menurut Haryajid, dalam hal pengembangan infrastuktur gas bumi adalah kemudahan mendapatkan pembiayaannya. Dengan status sebagai BUMN, ketika mendapatkan pinjaman dari bank untuk membangun infrastruktur gas bumi, PGN mendapatkan perlakuan khusus yakni tidak perlu memberikan jaminan kebendaan (Clean Basis) dalam perjanjian kredit. Dengan jadi anak usaha Pertamina dan statusnya sebagai BUMN dihapus, maka PGN harus menyediakan jaminan kebendaan (aset).
Haryajid juga menyoroti kondisi keuangan PGN yang selama ini lumayan bagus. Dari laporan keuangannya, BUMN ini mampu membukukan laba bersih sebesar US$ 401,2 juta tahun 2015. Perolehan tersebut setara 13% dari pendapatan usaha yang sebesar US$ 3,07 miliar.
Kinerja terbalik justru ditunjukkan oleh Pertamina. Meski membukukan pendapatan usaha yang luar biasa yakni US$ 41,76 miliar, namun perolehan laba bersihnya hanya tercatat US$ 1,42 miliar. Artinya, laba yang dicatatkan Pertamina hanya setara 3,4% dari pendapatannya. Ini jauh lebih kecil dibandingkan bunga deposito perbankan saat ini yang berada pada kisaran 6%.









Tinggalkan Balasan