Pengamat energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi. (Petrominer/Sony)

Jakarta, Petrominer – Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gajah Mada, Fahmy Radhi, meminta PT PLN (Persero) untuk segera melakukan sosialisasi cara pemberian kompensasi dan nilainya kepada pelanggan yang terdampak pemadaman listrik (blackout).

“Hal ini perlu disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat, agar mereka tidak kecewa. Karena pelanggan PLN sudah mengetahui akan ada kompensasi, namun mereka tidak mengetahui nilainya,” ujar Fahmy, Kamis (8/8).

Sebelumnya dilaporkan, sebagai bentuk tanggung jawab atas peristiwa blackout hari Minggu (4/8), PLN akan memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak blackout. Caranya dengan memberikan kompensasi berupa pengurangan tagihan listrik yang harus dibayar di bulan September 2019. Adapun nilai kompensasinya mengacu kepada Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017.

Metode pemberian kompensasi dilakukan dengan skema No Cash-Out. Artinya PLN tidak mengeluarkan uang tunai sama sekali. Dengan demikian, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini tidak memerlukan sumber dana baik dari internal maupun eksternal untuk membiayai kompensasi yang akan diberikan kepada para pelanggan.

Berdasarkan hitungan sementara PLN, total nilai kompensasi tersebut sebesar Rp 865 miliar. Dana kompensasi itu diperuntukkan kepada 22 juta pelanggan PLN yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten yang terdampak blackout.

Menurut Fahmy, PLN perlu melakukan sosialisasi kepada pelanggan yang terdampak blackout mengenai cara pemberian kompensasi dan nilainya. Karena berdasar perkiraannya, nilai kompensasi per konsumen itu kecil.

Besarannya antara Rp 4.000 – Rp 148.000 per konsumen. Besar kecilnya nillai kompensasi, tergantung nilai tagihan bulanan umumnya. Namun karena ditotal untuk 22 juta pelanggan, niilainya jadi besar yakni Rp 865 miliar.

Fahmy menyatakan, hal ini perlu disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat, agar mereka tidak kecewa. Karena pelanggan PLN sudah mengetahui akan ada kompensasi, namun mereka tidak mengetahui nilainya.

“Yang dikhawatirkan jika tidak mendapat informasi yang tepat pelanggan akan menjadi high expectation, terhadap jumlah kompensasinya. Jika itu terjadi khawatirnya pelanggan yang sudah terlanjur berharap tinggi akan kecewa saat mengetahui nilai kompensasinya ternyata tidak sebesar yang diharapkan. Jadi saya harap PLN harus segera mensosialisasikan perihal kompensasi ini kepada pelanggan dengan tepat agar tidak kecewa dua kali,” tegas Fahmy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here