, ,

Agar Lebih Bersaing, BM Intan Kasar Diusulkan Nol Persen

Posted by

Surabaya, Petrominer – Kementerian Perindustrian telah mengusulkan penurunan tarif bea masuk umum (Most Favoured Nation treatment) untuk intan kasar dan intan yang telah diasah menjadi nol persen (0%). Upaya ini dilakukan guna memacu daya saing dan produktivitas industri perhiasan dalam memperoleh bahan baku tersebut.

“Kami juga melakukan inisiasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar produk perhiasan dari Indonesia tidak terkena bea masuk (BM) di negara tujuan ekspor,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, saat meninjau pameran Surabaya Jewellery Fair 2017 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (26/10).

Gati memberi contoh Dubai sebagai negara tujuan ekspor yang masih menerapkan tarif BM untuk produk perhiasan dari Indonesia. Besar tarifnya sangat signifikan, yakni mencapai lima persen. Karena itu, dia berharap kebijakan yang diusulkan tersebut dapat didukung oleh seluruh pemangku kepentingan melalui berbagai kegiatan kreatif dan produktif sehingga dapat menghasilkan produk perhiasan yang bernilai tambah tinggi.

“Perhiasan merupakan salah satu produk non-migas unggulan Indonesia yang memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan perekonomian Indonesia,” ujar Gati.

Kemenperin mencatat, nilai ekspor produk perhiasan pada tahun 2016 mencapai US$ 6,37 miliar atau naik 13,65 persen dibandingkan tahun 2015 yang sebesar US$ 5,49 miliar. Capaian ini menjadi kabar yang menggembirakan dari industri perhiasan di Indonesia. Namun, Pemerintah ingin kinerja ekspor perhiasan bisa ditingkatkan lagi sehingga target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan sekitar 5,2 persen pada tahun 2017 ini dapat tercapai.

Menurut Gati, selama ini Kemenperin telah melakukan berbagai upaya terobosan untuk mendorong pertumbuhan industri perhiasan sebagai salah satu sektor penghasil devisa ekspor yang besar. Misalnya, melakukan Focus Group Discussion (FGD) dan seminar mengenai komoditas batu mulia dan perhiasan di Indonesia.

Selain itu, dilaksanakan pula bimbingan teknis dan pendampingan desain, khususnya terkait peningkatan kemampuan SDM termasuk untuk peningkatan mutu dan pemanfaatan teknologi. Kemperin juga telah memfasilitasi bantuan mesin dan peralatan serta penyusunan buku mengenai batu mulia di Indonesia.

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih bersama Gubernur Jawa Timur Soekarwo meninjau para peserta pameran Surabaya Jewellery Fair 2017 di Surabaya, Kamis (26/10).

Promosi Lewat Pameran

Pada kesempatan tersebut, Dirjen IKM Gati Wibawaningsih mengungkapkan, salah satu langkah tepat untuk menjadikan produk perhiasan Indonesia semakin dikenal oleh seluruh masyarakat dunia adalah melalui kegiatan promosi, baik melalui pameran di dalam maupun luar negeri. Dengan begitu, produk Indonesia dapat menguatkan branding nasional di tingkat global.

Salah satu contohnya, Direktorat Jenderal IKM Kemenperin ikut serta memeriahkan Surabaya Jewellery Fair 2017. Pameran yang digelar oleh Asosiasi Perhiasan Emas dan Permata Indonesia (APEPI) ini telah diselenggarakan sejak 22 tahun lalu, dengan diikuti para peserta dari mancanegara. “Kami terus berpartisipasi mengikuti pameran ini sebagai ajang promosi IKM lokal dalam memperkenalkan produk perhiasan terbaiknya kepada masyarakat luas,” terangnya.

Pada pameran Surabaya Jewellery Fair tahun ini, Ditjen IKM memfasilitasi 29 stan perhiasan yang terdiri dari perhiasan emas, perak, mutiara dan aksesoris perhiasan lainnya. Perhiasan perak berasal dari Bali dan Yogyakarta. Juga terdapat batu mulia yang berasal dari Aceh, Banjarmasin, Pacitan, Banten, Jakarta, dan Sukabumi. Untuk aksesoris perhiasan berasal dari daerah Solo, Semarang, dan Yogyakarta.

Melalui pameran ini, Gati berharap para IKM perhiasan dapat saling bersinergi sehingga tercipta dampak positif, baik bagi pelaku industri perhiasan maupun masyarakat secara umum sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas. Tak hanya itu, para IKM perhiasan juga diminta untuk selalu meningkatkan kualitas produknya dengan inovasi, perkaya kreatifitas dan desain, agar dapat bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Intan adalah mineral yang terbentuk secara kimiawi sehingga menjadi sebuah kristal. Intan terkenal karena memiliki sifat yang istimewa, terutama kekerasan dan keindahannya dalam memancarkan cahaya. Sifat-sifat ini yang membuat intan banyak digunakan untuk perhiasan dan berbagai penerapan di dalam dunia industri. Selain itu, intan juga memiliki harga yang sangat mahal.

Daerah penghasil intan terbesar yaitu terdapat di Afrika, terutama Afrika Tengah dan Selatan. Selain itu ada juga di Kanada, Rusia, Brasil, Australia, dan Indonesia. Sementara daerah penghasil intan yang terkenal di Indonesia ada di desa Pumpung kelurahan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *