Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar. (Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkapkan ada enam blok minyak dan gas bumi (migas) yang akan mengalihkan skema kontraknya dari Production Sharing Cost (PSC) Cost Recovery menjadi PSC Gross Split. Ini seolah menjadi salah satu jawaban atas tudingan skema gross split sebagai penyebab sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia kurang menarik,

“Dua minggu lagi akan berubah dua dan kemarin meeting ada empat lagi yang mau berubah (dari skema cost recovery menjadi gross split). Jadi hingga pertengahan bulan Pebruari nanti, akan bertambah enam blok yang menggunakan skema gross split, sehingga total blok yang menggunakan skema gross split menjadi 42 blok,” ujar Arcandra, Jum’at (11/1).

Dengan bertambahnya enam blok migas yang mengalihkan skema kontraknya menjadi gross split, maka total blok migas yang menggunakan skema gross split menjadi 42 blok.

Hal ini, menurut Arcandra, menunjukkan bahwa sejak diterapkan pada tahun 2017 lalu, skema PSC gross split telah membawa dampak positif terhadap perkembangan investasi migas di Indonesia. Pemerintah optimis tren positif hulu migas ini terus berlanjut dengan lakunya blok-blok migas yang akan ditawarkan nanti, baik itu blok baru maupun blok terminasi.

Keenam blok migas yang akan mengalihkan skema kontraknya tersebut ada yang masih tahap eksplorasi dan ada juga yang sudah memasuki tahap produksi. Keenam blok migas tersebut adalah Blok Duyung (dengan operator Conrad), Blok Muralim dan Blok Tanjung Enim (Dart Energy), Blok North Arafura (Madura Oil), Blok Bungamas (Bunga Mas International), dan Blok Sebatik (Star Energy).

“Blok Tanjung Enim merupakan blok migas unkonvensional pertama yang akan menggunakan skema gross split, dengan split disesuaikan dengan Peraturan Menteri yang ada, sekitar 16 persen kalau saya tidak salah. POD dan PSC nya inshaa Allah akan kita setujui seperti ENI, POD dan PSCnya kita setujui 1 bulan. Dan saya minta 9 Pebruari 2019 nanti, selesai,” jelasnya.

Arcandra mengungkapkan alasan mereka mengalihkan kontraknya menjadi gross split adalah mempertimbangkan keuntungan menggunakan skema tersebut, yakni efisien, proses yang tidak berbelit-belit, simple (sederhana) dan lebih memiliki kepastian, di mana parameter pembagian insentif jelas dan terukur.

“Karena alasan-alasan itulah mereka mengalihkan kontraknya menjadi gross split,” ungkapnya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here