, ,

Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Pusat Data

Posted by

–

Denpasar, Petrominer – Indonesia diperkirakan membutuhkan tambahan kapasitas listrik sebesar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pusat data (data center). Pemerintah mendorong pengembangan energi bersih dan menyiapkan Batam, Karimun, serta Bintan sebagai hub baru pusat data untuk menarik investasi digital berskala regional.

Menurut Menko Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, digitalisasi merupakan instrumen industrialisasi yang membutuhkan dukungan pasokan energi memadai. Kesiapan pasokan energi, terutama energi bersih, menjadi kunci agar Indonesia mampu menarik investasi pusat data berskala regional

“Tadi saya baru habis berbincang sama Dirut PLN, itu membutuhkan penambahan 20 GW. 20 GW ini sama dengan 20.000 MW. Itu sama dengan 20 persen dari total listrik yang existing sekarang. Ini enggak sedikit, cukup besar sekali,” ujar Bahlil dalam sambutannya pada Bali Tech Week 2026, Senin (19/10).

Selain listrik, realisasi investasi pusat data bergantung pada ketersediaan air, jaringan serat optik, dan kesiapan lokasi. Pemerintah menilai Batam, Karimun, dan Bintan memiliki potensi untuk menjadi hub baru yang melengkapi pusat data di Malaysia dan Singapura.

Bahlil menyebut kawasan tersebut memiliki ketersediaan air, kepadatan penduduk yang relatif lebih rendah dibandingkan Jakarta, Jawa Barat, atau Bali, serta peluang pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

“Kita akan membangun sekarang PLTS kurang lebih sekitar 100 gigawatt-peak. Dan saya punya keyakinan, teman-teman investor akan lebih suka untuk memakai data center mereka dengan memakai energi baru terbarukan. Dan ini sebuah peluang bisnis,” katanya.

Potensi investasi pusat data mulai terlihat di Batam. Kapasitas pusat data yang telah tersedia, berkomitmen, dan sedang dikembangkan di kota tersebut mencapai 1,47 GW. Selain itu, PLN Batam dan DayOne telah menandatangani kontrak pasokan listrik sebesar 450 MW, yang disebut sebagai kontrak terbesar untuk pusat data di Indonesia.

Dari sisi pasokan listrik, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Rinciannya meliputi 42,6 GW dari EBT, 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi, dan 16,6 GW dari pembangkit fosil, dengan potensi investasi mencapai Rp 2.967,4 triliun. Rencana pengembangan PLTS sebesar 100 GWp mencakup pembangkit skala besar, PLTS terapung, PLTS atap, dan instalasi di kawasan industri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *