, ,

Kinerja Tertekan, Diversifikasi Bisnis Tetap Dikebut

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT United Tractors Tbk (UT) menghadapi tekanan kinerja pada semester I tahuun 2026. Laba bersih perusahaan, tidak termasuk pos non-berulang (non-recurring), turun 48 persen menjadi Rp 4,3 triliun. Hal ini terutama akibat penurunan penjualan emas dan melemahnya bisnis alat berat serta pertambangan batubara.

Pendapatan bersih UT juga turun 15 persen menjadi Rp 58,3 triliun dibandingkan Rp 68,5 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Tekanan terbesar berasal dari penurunan penjualan emas PT Agincourt Resources, serta dampak alokasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batubara nasional 2026, yang lebih rendah terhadap bisnis alat berat dan pertambangan batubara.

“Penjualan emas Tambang Martabe menjadi salah satu faktor utama pelemahan kinerja. Operasional tambang tersebut sempat dihentikan sementara, meski telah kembali beroperasi pada kuartal II 2026,” ungkap Presiden Direktur UT, Iwan Hadiantoro, dalam Paparan Publik yang merupakan bagian dari rangkaian Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (7/9).

Iwan Hadiantoro.

Bisnis alat berat juga terkena dampak penyesuaian aktivitas pertambangan. Hingga Juli 2026, penjualan alat berat Komatsu turun 23 persen menjadi 2.393 unit.

Penurunan paling tajam terjadi pada penjualan big machine untuk sektor pertambangan yang merosot 49 persen menjadi 405 unit. Kondisi tersebut sejalan dengan lebih rendahnya alokasi RKAB batubara nasional tahun ini.

Meski demikian, bisnis purnajual relatif bertahan. Pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan naik tipis 1 persen menjadi Rp 5,5 triliun.

“Secara keseluruhan, pendapatan segmen alat berat turun 28 persen menjadi Rp 15 triliun. UT terus mengembangkan bisnis pendukung melalui layanan engineering, manufaktur komponen dan attachment, hingga logistik maritim,” papar Iwan.

Volume Kontraktor dan Batubara

Pada segmen kontraktor pertambangan, PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) mencatat penurunan volume kerja seiring penyesuaian target produksi klien.

“Hingga Juli 2026, volume pemindahan tanah turun 10 persen menjadi 573 juta bcm. Sementara produksi batubara klien turun 3 persen menjadi 80 juta ton dengan rata-rata stripping ratio 7,1 kali,” jelas Direktur Bisnis Pertambangan UT, Hendra Hutahean.

Hendra Hutahean.

Sementara Turangga Resources yang menjalankan bisnis pertambangan batubara termal dan metalurgi mencatat penjualan 6,5 juta ton hingga Juli 2026, turun 18 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, 1,8 juta ton merupakan batu bara metalurgi.

“Pendapatan segmen batubara termal dan metalurgi juga turun 4 persen menjadi Rp 12,9 triliun pada semester I-2026,” paparnya.

Ekspansi Bisnis

Tekanan paling besar terjadi pada bisnis pertambangan emas dan mineral lainnya. Pendapatan segmen tersebut merosot 66 persen menjadi Rp 2,4 triliun akibat penurunan penjualan emas hingga 82 persen.

PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatat total penjualan setara emas sebesar 32.000 ons hingga Juli 2026. Angka tersebut jauh di bawah capaian 143.000 ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski bisnis emas mengalami tekanan, UT tetap melanjutkan ekspansi. Pada Februari 2026, melalui PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara, UT menyelesaikan akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas yang berlokasi di Sulawesi Utara.

Di sektor nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel sebesar 973.000 wet metric ton hingga Juli 2026. Volume tersebut terdiri atas 316.000 wmt saprolit dan 657.000 wmt limonit.

UT juga memiliki 20,13 persen saham Nickel Industries Limited (NIC), perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi yang memiliki aset utama di Indonesia. Operasional RKEF NIC mencatat penjualan nickel metal sebesar 61.622 ton pada kuartal IV 2025 dan kuartal I 2026.

Buyback Saham

Selain tekanan operasional, UT mencatat pos nonberulang senilai Rp 3,3 triliun pada semester I 2026. Pos tersebut terutama berasal dari penurunan nilai investasi di Supreme Geothermal Energy, serta pembayaran terkait aktivitas sebelumnya di kawasan hutan pada Tambang Nikel Stargate.

Per 30 Juni 2026, UT mencatat utang bersih Rp 9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5 persen. Posisi tersebut berbalik dari kondisi kas bersih Rp 7,7 triliun pada akhir 2025, terutama akibat akuisisi perusahaan tambang emas dan program pembelian kembali saham.

Sementara itu, UT telah menyelesaikan pembelian kembali 35,5 juta saham pada periode April-Juni 2026. Perseroan kemudian melanjutkan program buyback dengan nilai maksimal Rp 2 triliun untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026.

Vilihati Surya.

Tekanan pada bisnis batubara dan emas menunjukkan tantangan yang dihadapi UT sepanjang tahun 2026. Namun, ekspansi ke emas dan nikel, pengembangan layanan pendukung, serta penguatan bisnis kontraktor pertambangan menjadi bagian dari strategi UT untuk mengurangi ketergantungan terhadap siklus bisnis batubara dan alat berat.

Ke depan, kemampuan UT memulihkan produksi emas Martabe sekaligus mengembangkan portofolio mineral non-batubara akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pertumbuhannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *