, ,

Momentum 100 Tahun Panas Bumi untuk Akselerasi Pertumbuhan

Posted by

Jakarta, Petrominer – Tahun 2026 menandai satu abad pengembangan panas bumi Indonesia, yakni sejak kegiatan eksplorasi pertama kali dilakukan di Kamojang, Jawa Barat, pada tahun 1926. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berkomitmen menjadikan momentum satu abad ini untuk memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu produsen panas bumi terkemuka dunia.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan momentum 100 tahun panas bumi Indonesia menjadi awal fase pertumbuhan berikutnya bagi PGE sekaligus industri nasional. Satu abad pengembangan panas bumi Indonesia bukan sekadar momentum untuk mengenang perjalanan panjang industri ini, tetapi menjadi titik luncur menuju masa depan energi yang lebih bersih dan mandiri.

“PGE memiliki sumber daya panas bumi lebih dari 3 gigawatt (GW), salah satu portofolio terbesar di dunia saat ini. Prioritas kami adalah mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas pembangkit yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Ahmad Yani dalam Media Briefing Kinerja Semester I-2026, Selasa (4/8).

“Kami menargetkan kapasitas terpasang 1 GW pada 2028, 1,8 GW pada tahun 2033, dan terus tumbuh hingga Indonesia menjadi negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia,” tegas Ahmad Yani.

Bertepatan dengan itu, arah kebijakan pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang menargetkan penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,2 GW membuka peluang percepatan pengembangan sektor panas bumi. PGE berada pada posisi yang siap menangkap momentum tersebut. Saat ini Perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, terdiri atas 727 MW yang dioperasikan langsung oleh PGE dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.

Tiga proyek strategis PGE, yaitu PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta Lahendong Unit 7 dan 8 (50 MW), telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas. Status tersebut membuka peluang akses terhadap pendanaan internasional untuk mendukung percepatan pengembangan proyek.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, mengatakan fokus perusahaan ke depan adalah memastikan potensi sumber daya panas bumi dapat dikonversi menjadi proyek yang layak secara teknis, ekonomis, dan berkelanjutan.

Sepanjang semester pertama tahun ini, menurutnya, PGE berfokus pada empat pilar utama, yaitu commercial readiness, subsurface readiness, execution readiness, dan project funding, untuk memastikan setiap proyek berjalan optimal dan berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, PGE berupaya memastikan setiap proyek memiliki tingkat kesiapan yang semakin tinggi sebelum memasuki tahap investasi maupun tahap eksekusi proyek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *