
Pekanbaru, Petrominer – SKK Migas terus mendorong upaya percepatan peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Salah satunya melalui optimalisasi teknologi di lapangan.
Upaya yang saat ini gencar dikampenyakan bersama para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) adalah program Triple 100, yakni 100 sumur eksplorasi, 100 multi-stage fracturing/multi-layer fracturing, dan 100 tambahan sumur pengembangan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, melakukan kunjungan kerja ke proyek sumur Multi Stage Fracturing (MSF) BLSE-050 di lapangan Balam South East beberapa waktu lalu. Lapangan migas yang berada di Wilayah Kerja (WK) Rokan ini dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
“Program MSF ini merupakan salah satu upaya nyata untuk meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan low quality reservoir. Melalui teknologi ini, kita dapat membuka jalur aliran minyak yang sebelumnya sulit diproduksikan, sehingga potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara lebih optimal,” ujar Rikky, Selasa (21/4).
Menurutnya, penerapan teknologi MSF menjadi langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi lapangan migas. Ini termasuk lapangan yang telah berumur dan memiliki kualitas reservoir rendah (low quality reservoir) dengan cadangan yang masih cukup besar. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara SKK Migas dan KKKS, service provider serta dukungan operasional yang memadai.
Sumur High Profile
General Manager PHR Zona Rokan, Andre Wijanarko, menjelaskan lapangan dengan karakteristik low quality reservoir yaitu kondisi batuan yang membuat minyak sulit mengalir secara alami ke sumur. Untuk mengatasinya, digunakan teknologi fracturing atau perekahan batuan dengan tekanan tinggi guna membuka jalur aliran minyak.
“Metode ini dilakukan secara bertahap (multi stage fracturing) pada sumur horizontal, sehingga aliran hidrokarbon dapat lebih optimal dan produksi meningkat,” jelas Andre.
Sepanjang tahun 2026 ini, direncanakan sebanyak 15 sumur MSF akan dieksekusi. Sumur-sumur tersebut tersebar di tiga lapangan utama, yakni Balam South East, Bangko, dan Kotabatak, dengan masing-masing sebanyak lima sumur.
Andre menuturkan bahwa sumur MSF merupakan sumur high profile yang artinya sumur-sumur ini diharapkan menghasilkan produksi yang tinggi, disamping tantangan operasional dan biaya yang juga tinggi. Untuk itu, PHR berupaya semaksimal mungkin memastikan sumur MSF diselesaikan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang maksimal.
“Hingga saat ini, dua sumur pertama tahun ini telah menyelesaikan fracturing stage 1 dan tengah bersiap memasuki stage berikutnya, yang direncanakan hingga 8 stages, dan onstream diharapkan akhir Mei 2026. Selain itu, terdapat dua sumur yang masih dalam proses pengeboran serta empat sumur yang telah siap untuk dibor,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, C.W. Wicaksono, memastikan pihaknya akan terus melakukan pengawasan dan koordinasi berkelanjutan dengan PHR.
“SKK Migas akan mengawal pelaksanaan proyek strategis hulu migas agar berjalan optimal, sekaligus mendukung pencapaian target produksi nasional, ketahanan energi, dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Wicaksono.







