Jakarta, Petrominer – Transisi energi di Indonesia terus berkembang dengan cepat. Dorongan utama datang dari meningkatnya pemanfaaatan energi terbarukan, pesatnya aliran invesasi, serta kian terintegrasinya teknologi digital.
Fakta ini terungkap dalam Asia Pacific Energy Transition Readiness Index 2025, sebuah riset industri yang digagas divisi Energy Industries ABB. Riset ini didasarkan pada survei terhadap lebih dari 4.000 pemimpin bisnis lints 10 industri di 12 negara kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Menurut Vice President Divisi Energy Industries ABB untuk Asia Tenggara, Abhinav Harikumar, hasil survei yang dilaksanakan antara Mei-Juni 2025 ini menunjukkan komitmen kuat terhadap transisi energi, baik di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik.
“Survei dilakukan untuk melihat bagaimana negara-negara tersebut melakukan beragam langkah demi mencapai tujuan transisi energi,” ungkap Abhinav saat memaparkan hasil survei tersebut kepada sejumlah awak media, Rabu (24/9).
Sebanyak 40 persen responden di Indonesia menyatakan perusahaan mereka telah mengadopsi lebih dari separuh kebutuhan energinya dari sumber terbarukan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional yang hanya 25 persen.
Ke depannya, 87 persen pelaku industri meyakini penggunaan energi terbarukan akan melonjak lebih dari 20 persen dalam lima tahun mendatang. Perkiraan ini juga melampaui rata-rata regional yang berada di angka 77 persen.
Menurutnya, arah positif ini turut diperkuat oleh reformasi regulasi, termasuk Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan terbarukan (RUU EBT). Hal ini telah memberikan pijakan regulatif jelas untuk memperluas kapasitas energi hijau di Indonesia.
“Kebijakan iklim yang kuat, investasi yang berdampak, serta optimisme terhadap teknologi inovatif seperti AI dan solusi otomatisasi menjadi faktor penggeraknya. Lebih jauh, kolaborasi lintas ekosistem, pengembangan ketrampilan hijau dan akselerasi digitalisasi akan semakin krusial,” papar Abhinav.
Secara bersamaan, momentum finansial juga kian solid. Sebanyak 86 persen perusahaan di Indonesia kini mengalokasikan lebih dari 10 persen capex mereka pada proyek transisi energi. Ini jauh di atas rata-rata regional yang berada di angka 73 persen.
“Hal ini mencerminkan keyakinan yang kian mengakar bahwa investasi transisi tidak hanya prospektif, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam memperbesar skala energi terbarukan sekaligus mendorong percepatan transisi energi,” ungkapnya.
Teknologi dan Kolaborasi
Sementara itu, inovasi teknologi hadir sebagai akselerator utama.
Sebanyak 70 persen responden memandatang teknologi sebagai pendorong potenisal terbesar. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional sebesar 65 persen. Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi dipandang transformatif oleh 47 persen pemimpin, dibandingkan 32 persen di tingkat regional.
Pada saat yang sama, digitalisasi menjadi prioritas invertasi utama bagi 47 persen perusahaan di Indonesia, yang menegaskan urgensi modernisasi sistem jaringan. Bagi Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa teknologi digital dan otomatisasi telah dipandang sebagai elemen penting untk menjadikan energi terbarukan dapat diterapkan secara luas. Teknologi juga menjadi elemen penting untuk memodernisasi jaringan, sistem, dan infrastruktur guna mendorong efisiensi.
Transisi energi juga merupakan transformasi yang berpusat pada manusia, dan kolaborasi menjadi kunci untuk memperkuat “talenta-talenta hijau” di masa depan.
Sebanyak 30 persen responden menyatakan perusahaan mereka melihat kebutuhan untuk mendapatkan tenaga kerja yang dapat mendukung strategi dan rencana transisi energi perusahaan. Untuk menjawab hal ini, perusahaan telah melibatkan mitra eksternal dalam pengembangan ketrampilan keberlanjutan, terutama melalui kelompok industri (54 persen), organisasi pembangunan internasional (43 persen), lembaga pemerintah (33 persen), serta universitas dan lembaga riset (30 persen).
Responden juga menyadari bahwa kolaborasi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan kemajuan secara keseluruhan. Satu dari empat responden menilai kemitraan publik-swasta sebagai peluang yang belum tergarap sepenuhnya.
Untuk membuka potensi penuh transisi energi Indonesia, diperlukan upaya menjaga momentum adopsi dan investasi energi terbarukan, pengembangan berkelanjutan serta digitalisasi sistem yang ada, pembangunan talenta atau tenaga kerja hijau, serta kolaborasi yang lebih erat antara sektor publik dan swasta.
“Jika semua hal ini dapat dicapai, transisi energi Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk dipercepat dalam beberapa tahun mendatang,” tegas Abhinav.
Post Views: 28
Tinggalkan Balasan