Mataram, Petrominer – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, meresmikan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Independent Power Producer (IPP) Lombok Timur kapasitas 50 MW (2×25). Menteri ESDM juga melakukan groundbreaking lima Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) dan satu MPP tersebar di Nusa Tenggara dengan total kapasitas mencapai 350 MW.
Proyek ketenagalistrikan tersebut dibangun untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini juga merupakan sebuah dukungan nyata Pemerintah terhadap percepatan pembangunan infrastruktur kelistrikan di NTB dan NTT.
“Pemerintah terus berupaya agar infrastruktur kelistrikan segera dibangun untuk memperluas akses listrik kepada masyarakat dengan harga terjangkau, melalui berbagai program pengembangan pembangkit 35.000 MW beserta infrastruktur pendukungnya,” ujar Jonan dalam sambutannya sebelum meresmikan proyek ketenagalistrikan tersebut, Jum’at (20/10).
Menurutnya, di tahun 2019 apabila seluruh proyek kelistrikan tersebut beroperasi, maka bisa memenuhi kebutuhan listrik di NTB dan NTT. “Dengan beroperasinya seluruh proyek ini kebutuhan listrik di NTB dan NTT tidak akan kurang, total kapasitas 350 MW apabila pelanggan yang butuh listrik 900 VA per rumah tangga, akan bisa mengaliri sekurangnya 350-400 ribu rumah tangga,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Jonan menyampaikan apresiasinya atas dukungan Pemerintah Daerah NTB dan NTT sehingga pengembangan infrastruktur kelistrikan bisa ditargetkan selesai pada tahun 2018, kecuali PLTU Lombok Peaker yang diperkirakan selesai tahun 2019.
Untuk pengelolaan kelistrikan, Menteri ESDM juga berpesan kepada direksi PT PLN (Persero) untuk dapat lebih memberikan contoh untuk efisiensi pada investasi dan biaya operasi. Dengan begitu, para IPP juga bisa mengendalikan tarif listrik, sehingga tarif listrik tidak naik tapi turun.
“Saya mohon kepada PLN untuk dapat memberikan contoh efisiensi terhadap investasi per MW dan biaya operasi shingga IPP bisa mengikuti kalau bisa tarif listrik tidak naik tapi turun,” tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN Sofyan Basir, dalam laporannya, mengungkapkan komitmen PLN untuk mendukung Pemerintah mewujudkan kebijakan 35.000 MW di tahun 2019. Sofyan melaporkan bahwa saat ini kondisi kelistrikan sudah sangat cukup, beberapa daerah bahkan sudah tidak ada pemadaman listrik, salah satunya cadangan listrik di Lombok mencapai 299 MW, dan beban puncak sebesar 227 MW.
“Beberapa daerah sudah memiliki cadangan rata-rata 30%, di Lombok cadangan listriknya mencapai 72 MW”, jelasnya.
Mengenai pembangkit listrik yang digroundbreaking dan diresmikan, Sofyan mengungkapkan bahwa nilai total investasi dari seluruh proyek tersebut mencapai Rp 6 triliun dan dapat menyerap cukup banyak lapangan kerja.
Berikut proyek-proyek ketenagalistrikan tersebut:
- Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Lombok Peaker. Berkapasitas 150 MW dan berlokasi di desa Tanjung Karang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dengan investasi 1,6 triliun rupiah, proyek ini akan menyerap tenaga kerja sejumlah 365 orang pada fase konstruksi dan 25 orang pada fase operasi. PLTGU ini diharapkan akan Commercial Operation Date (COD) pada Februari 2019.
- Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Bima. Berlokasi di Dusun Bonto, Kecamatan Asakota, Kota Bima Nusa Tenggara Barat, pembangkit ini dibangun dengan kapasitas 50 MW. Dengan total investasi 637 miliar rupiah, proyek akan menyerap tenaga kerja sekitar 300 orang. PLTMG Bima direncanakan akan COD pada Oktober 2018.
- PLTMG Sumbawa kapasitas 50 MW Pembangkit yang berada di desa Labuan Badas Kabupaten Sumbawa ini menelan investasi lebih dari 744 milyar rupiah dan menyerap tenaga kerja hingga 285 orang. Ditargetkan PLTMG Sumbawa akan selesai pada Oktober 2018.
- PLTMG Kupang Peaker kapasitas 40 MW. Pembangkit ini dibangun di Dusun Panaf, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Ditargetkan akan selesai pada November 2018. Dengan total investasi lebih dari 700 milyar rupiah, pembangkit ini menyerap tenaga kerja lebih dari 300 orang.
- Selanjutnya, untuk mendukung kelistrikan di Pulau Flores, dibangun Mobile Power Plant (MPP) Flores berkapasitas 20 MW. Berlokasi di Dusun Rangko, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Menelan investasi lebih dari 427 milyar rupiah dan menyerap tenaga kerja hingga 210 orang selama masa konstruksi dan 25 orang selama fase operasi.
- PLTMG Maumere kapasitas 40 MW yang berlokasi di desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka-Flores Nusa Tenggara Timur. Selama masa konstruksinya proyek ini menyerap tenaga kerja sekitar 285orang dengan nilai investasi lebih dari 694 milyar rupiah.
- PLTU Lombok Timur yang mempunyai kapasitas 2×25 MW berlokasi di Desa Padakguar, Kabupaten Lombok Timur. Dengan total nilai investasi 1,2 triliun rupiah, telah menyerap tenaga kerja sebanyak 1.200 orang pada fase konstruksi dan 470 tenaga kerja saat operasi dengan prosentase 95% orang Lombok dan 85% di antaranya adalah penduduk Desa Padakguar.








Tinggalkan Balasan