,

PLTU Jawa 4, Purwarupa Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan

Posted by

Jepara, Petrominer – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memuji penerapan teknologi ramah lingkungan pada proyek perluasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B atau PLTU Jawa 4. Proyek pembangkit unit 5 dan 6 ini diproyeksikan menjadi tolok ukur (benchmark) konstruksi pembangkit tenaga uap yang ramah lingkungan.

PLTU Jawa 4 dibangun dengan menggunakan teknologi terbaru yaitu ultra-super-critical (USC). Teknologi ini beroperasi pada tekanan dan suhu di atas titik kritis air, di mana fase gas dan cair dalam keseimbangan sehingga menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi.

Menurut Jonan, pembangkit listrik dengan teknologi USC memiliki efisiensi sekitar 8-10 persen dibandingkan pembangkit listrik berbasis batubara lainnya, yang membutuhkan konsumsi batubara lebih sedikit dan menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah, sehingga lebih ramah lingkungan.

“Sebagai hasil dari teknologi USC ini, pembakaran akan lebih efisien, karena material dikonversikan dengan panas dan tekanan yang lebih tinggi. Pada kondisi ini, CO2 dan emisi gas lainnya akan berkurang akibat turunnya konsumsi batu bara,” ujar Menteri ESDM dalam sambutannya pada acara groundbreaking PLTU Jawa 4, Kamis (31/8).

Jonan berpesan, agar menjaga emisi gas buang sesuai dengan hasil kesepakatan Para Pihak (Conferences of Parties-COP) UNFCCC ke-21 di Paris tahun 2015 lalu. “Mengenai emisi gas buang kami mohon dijaga betul karena komitmen Pemerintah Indonesia di COP-21 di Paris, Desember 2015 bahwa kita berkomitmen untuk mengurangi polusi udara. Makanya kita sudah bicara mobil listrik,” paparnya.

Sebelumnya, Kepala Satuan Komunikasi Korporat PT PLN (Persero), I Made Suprateka menjelaskan, bahwa PLTU Tanjung Jati Unit 5 & 6 ini merupakan purwarupa (prototype) pembangkit ramah lingkungan. Melalui pemilihan teknologi ramah lingkungan, PLTU ini diharapkan bisa menjadi referensi pembangunan pembangkit lain di Indonesia, baik yang dibangun oleh pengembang listrik swasta maupun PLN.

“Di Tanjung Jati ini adalah prototipe pembangkit yang bisa dijadikan benchmark oleh pembangkit di seluruh Indonesia baik itu Independent Power Producer (IPP) maupun pembangkit PLN. Harapan kita ke depan, pembangunan-pembangunan seluruhnya pembangkit yang ada di Indonesia mengacu pada pembangkit yang ada di sini (Tanjung Jati),” ujar Made Suprateka.

Dia juga mengungkapkan bahwa PLTU Tanjung Jati selalu mendapatkan predikat A terkait pengelolaan lingkungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), seperti penangkaran rusa dan burung merak maupun penghijauan.

Sementara, Direktur Utama PT Bhumi Jati Power, Boy Gemino Kalauserang selaku konsorsium pembangunan PLTU Jawa 4, menerangkan, melalui penggunaan teknologi ramah lingkungan, akan mengurangi penggunaan batubara yang berujung pada rendahnya emisi gas buang. Selain itu, terdapat pula penggunaan teknologi Electrostatic Precipitator (ESP) yang mampu menghasilkan produk turunan dari buangan limbah PLTU, seperti bahan baku semen dan beton pengganti.

“Pada prinsipnya itu berdasarkan data empiris bisa menghasilkan efisiensi yang lebih baik apabila dibandingkan dengan conventional power plant. Sekitar 8 – 10 persen,” ujar Boy.

Untuk kebutuhan suplai batubara, PLTU Jawa 4 telah melakukan penandatangan pembelian dengan pihak supplier dengan kebutuhan sekitar 7 juta ton per tahun. “Dan kita sendiri sudah menandatangai beberapa supplier batubara terkemuka di Indonesia. Kerja sama (supply) ini akan berlangsung selama COD sekitar 25 tahun,” tutur Boy.

Terbesar di Asia Tenggara

Dimulainya konstruksi proyek ini tidak lepas dari pemenuhan beberapa syarat oleh pihak konsorsium, seperti izin mengenai analisis dampak lingkungan. Dalam pembangunan PLTU Jawa 4 konsorsium juga menaruh perhatian besar terhadap lingkungan dengan diperolehnya izin AMDAL pada tahun 2015.

PLTU Jawa 4 yang berlokasi di Desa Tubanan, Kabupaten Jepara akan menjadi pembangkit terbesar di Asia Tenggara.

Besarnya kapasitas tersebut merupakan gabungan dari PLTU Tanjung Jati B Unit 1, 2, 3 & 4, dengan kapasitas 4×660 MW yang sudah beroperasi. Sehingga, total kapasitas PLTU Jawa 4 sebesar 4.6 dari penambahan kapasitas 2 x 1.000 MW dari Unit 5 & 6 akan menjadi 4.640 MW.

“Dengan tambahan kapasitas 2.000 MW, maka total akan menghasilkan energi listrik 4.640 MW. Ini adalah merupakan komplek yang terbesar di Asia Tenggara dan salah satu yang terbesar di Asia,” ungkap Boy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *