Jayapura, Petrominer — PT PLN (Persero) berkomitmen untuk merealisasikan program Papua Terang tahun 2019-2020. Beragam upaya telah dilakukan, salah satunya melakukan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat.
“PLN berkomitmen untuk mempercepat penyediaan listrik yang baik dan berkualitas dalam rangka mendukung pembenahan tata kelola pemerintahan daerah yang bersih dan melayani rakyat Papua,” ujar Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua PLN, Haryanto WS, usai menandatangani Deklarasi Afirmatif Tanah Papua Terang dan Terkoneksi, Selasa (18/7).
Menurut Haryanto, penandatangan deklarasi ini sebagai wujud dari semangat pembangunan untuk merealisasikan Papua Terang tahun 2019-2020. Deklarasi itu juga ditandatangani oleh para Kepala Pemerintah Daerah di Papua dan PT Telkom Indonesia yang berperan dari sisi telekomunikasi.

Dalam program itu, PLN telah dan sedang melakukan pembangunan pembangkit listrik dengan total kapasitas sebesar 330 Mega Watt (MW) sampai tahun 2019 mendatang. Untuk tahun 2017, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di Jayapura dengan kapasitas 50 MW ditargetkan selesai dan segera beroperasi. Sementara di Nabire, sedang berlangsung pembangunan PLTMG berkapasitas 20 MW, yang direncanakan rampung awal tahun 2018.
Tidak hanya pembangunan pembangkit listrik dengan kapasitas besar, PLN juga akan menerangi 2.200 desa di Papua dan Papua Barat yang belum teraliri listrik hingga tahun 2019.
“Dari 43 ibukota kabupaten di Papua dan Papua Barat, masih terdapat 14 ibukota kabupaten yang belum terlistriki oleh PLN pada awal tahun 2016. Ini merupakan salah satu komitmen kami, agar PLN dapat hadir di seluruh ibukota kabupaten Papua dan Papua Barat,” kata Haryanto dalam pemaparannya mengenai kondisi kelistrikan Papua dan Papua Barat.
Pembangunan infrastruktur tenaga listrik ini juga ditujukan untuk mendukung pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020, yang rencananya akan diselenggarakan di Provinsi Papua.
PLN juga berupaya meningkatkan jam operasi pada daerah-daerah yang masih menyala selama 18 jam untuk menjadi 24 jam nyala.
“Kami memohon kepada seluruh bupati dan stakeholder yang hadir agar dapat mendukung pembangunan pusat-pusat pembangkit listrik di Papua, khususnya agar berjalan dengan lancar. Kami juga akan terus berusaha agar sistem kelistrikan di Papua dan Papua Barat dapat lebih handal,” tegas Haryanto.










Tinggalkan Balasan