Kutai Kartanegara, Petrominer – Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, meneguhkan komitmennya untuk menggunakan semua kewenangan, instrumen, dan sumber daya yang dimiliki guna menyelamatkan pesut mahakam dari kepunahan. Karena itulah, Kementerian LH mendukung berdirinya desa konservasi dan wisata edukatif bagi keanekaragaman hayati di Kawasan Danau Mahakam.
“Saya akan menggunakan kewenangan sesuai amanah yang diberikan oleh undang-undang untuk melindungi dan melestarikan Pesut Mahakam ini,” tegas Hanif usai mengunjungi Program CSR PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), yakni Konservasi Endemik (Komik) Pesut Mahakam, di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Kamis (3/7).
Menurutnya, berdasarkan keseluruhan sumber daya alam yang ada di wilayah ini, maka kondisi Kawasan Danau Mahakam sangat mewakili triple planetery crises. Pemanfaatan ruang dan sumber daya alam di kawasan ini harus diimbangi dengan upaya konservasi, perlindungan, pengendalian, pengawasan, serta pemanfaatan secara berkelanjutan.
“Saya mendukung Desa Pela sebagai Desa Konservasi dan wisata edukatif bagi keanekaragaman hayati di Kawasan Danau Mahakam, khususnya pesut mahakam, sesuai dengan Permen LH Nomor 29 tahun 2009 tentang Pedoman Konservasi Keanekaragaman Hayati di daerah,” ujar Hanif di sela-sela kunjungan kerja tersebut.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri LH didampingi oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud; Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri; Resident Representative of UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura; Deputy Regional Director of UNEP for Asia Pacific, Marlene Nilsson; Direktur Utama PHI, Sunaryanto; General Manager PHM, Setyo Sapto Edi; beserta jajaran instansi pemerintah pusat dan daerah. Jajaran pemerintah dan masyarakat Desa Pela menyambut kunjungan ini dengan antusias.
CSR Unggulan
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Sunaryanto, Program Komik Pesut Mahakam telah dijalankan sejak tahun 2018 oleh PHM, anak usaha PHI. Program CSR unggulan ini fokus pada perlindungan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), satwa air endemik Kalimantan Timur yang kini berstatus Critically Endangered (CR).
Menurut Sunaryanto, populasi Pesut Mahakam diperkirakan hanya tersisa 64–70 ekor, sehingga membutuhkan perhatian yang serius dari seluruh pemangku kepentingan. Oleh karena itu, PHM menjalankan program ini melalui pendekatan kolaboratif antara perusahaan, masyarakat, akademisi, dan pemerintah.
Salah satu inovasi penting dalam program ini adalah Pinger Akustik, alat berbasis gelombang ultrasonik yang dipasang pada jaring nelayan. Alat ini digunakan dengan meyesuaikan gelombang ultrasonik pada frekuensi 50-120KHz dengan kebisingan125 desibel yang kemudian dapat ditangkap oleh pesut, sehingga mereka mampu menjauhi jaring nelayan atau rengge sejauh radius 10-20 meter.
“Dengan teknologi ini terbukti menurunkan angka kematian Pesut Mahakam akibat rengge dari 66 persen menjadi 0 persen di sekitar Desa Pela,” jelasnya.

Desa Wisata
Lebih lanjut, Sunaryanto menyampaikan bahwa pengembangan Desa Pela sebagai desa wisata berbasis konservasi melalui Program Komik Pesut Mahakam merupakan bagian dari implementasi komitmen perusahaan dalam pengelolaan kinerja operasi hulu migas yang menerapkan prinsip Environmental, Social, Governance (ESG).
Program CSR ini juga bertujuan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan Tujuan nomor 14 tentang Menjaga Ekosistem Laut.
“Di program ini, perusahaan mensinergikan aspek keanekaragaman hayati (biodiversity) dan dampak terhadap masyarakat (community impact). Kami telah menerapkan inovasi sosial dan lingkungan dalam berbagai program CSR Perusahaan, sehingga dapat memberikan dampak yang signifikan dan berkelanjutan bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasi,” ujar Sunaryanto.
Program Komik Pesut Mahakam dijalankan melalui lima fase, yakni inisiasi, penguatan, pengembangan, replikasi, dan kemandirian (2018–2026). Di dalamnya termasuk pelatihan wisata, pembangunan Museum Nelayan, pengelolaan sampah, serta penerbitan peraturan desa tentang konservasi.
Sementara General Maneger PHM, Setyo Sapto Edi, mengatakan Program Komik Pesut Mahakam adalah bukti nyata bahwa sinergi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah dapat menghasilkan dampak yang signifikan. Selain konservasi spesies langka, yakni Pesut Mahakam.
“Kami juga mendorong kemandirian masyarakat melalui pariwisata berkelanjutan dan infrastruktur dasar seperti LPJU yang hari ini kami serahkan,” ujar Setyo usai menyerahkan bantuan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) tenaga surya kepada masyarakat Desa Pela.
Hingga saat ini, program CSR unggulan PHM ini telah mengantarkan Desa Pela menerima berbagai penghargaan nasional dan internasional, seperti Kalpataru Nasional 2024, Global CSR Award 2023 (Vietnam), Responsible Business Award 2023, Reuters (inggris), serta terpilih sebagai anggota UNWTO Best Tourism Villages Upgrade Programme.








Tinggalkan Balasan