,

Cargill Tanam 3.500 Bibit Mangrove di Gresik

Posted by

Gresik, Petrominer — Cargill bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Yayasan Elang Khatulistiwa Adipavitra (YEKA) melakukan inisiatif penanaman mangrove di kawasan pesisir Kalimireng, Manyar, Gresik. Lebih dari 120 peserta yang terdiri dari komunitas setempat, akademisi, dan relawan lingkungan turut berpartisipasi dalam menanam 3.500 bibit mangrove.

Admin & Relations Manager Cargill Gresik, Adi Suprayitno, menjelaskan upaya ini merupakan bagian dari Program Kalimireng Blue Mangrove Fase II, sebuah kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekosistem pesisir serta mendorong kesadaran dan keterlibatan publik dalam pelestarian lingkungan. Kegiatan penanaman mangrove ini, yang digelar Minggu (15/6), dilakukan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan 50 tahun kiprah Cargill di Indonesia,

“Sejak tahun 2021, program ini telah berhasil menanam lebih dari 33.000 bibit mangrove di wilayah tersebut,” ungkap Adi, Kamis (19/6).

Menurutnya, sebagai mitra masyarakat yang telah lama hadir di Gresik, Cargill berkomitmen untuk mendorong pembangunan berkelanjutan bersama warga setempat. Inisiatif penanaman mangrove ini tidak hanya menegaskan komitmennya terhadap perlindungan lingkungan di komunitas, tetapi juga merupakan upaya konkret untuk memperingati perjalanan 50 tahun Cargill di Indonesia.

Melalui program ini, Cargill menegaskan kembali komitmennya untuk mendorong upaya keberlanjutan yang berfokus pada masyarakat guna melindungi dan melestarikan lingkungan pesisir Indonesia.

Menjadi habitat bagi 27 spesies tanaman mangrove dan 40 spesies hewan yang telah teridentifikasi, Kalimireng merupakan ekosistem penting yang saat ini terancam oleh alih fungsi lahan dan kegiatan industri.

Wakil Ketua Pusat Kajian Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik ITS, M. Moeryono, menjelaskan bahwa mangrove merupakan pelindung alami pesisir yang sangat penting, dengan nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Upaya konservasi harus didukung oleh penelitian dan edukasi yang berkelanjutan agar dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.”

Hal senada disampaikan Direktur YEKA, Sriyanto.

“Inisiatif ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan untuk masa depan lingkungan yang lebih tangguh,” ungkap Sriyanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *