,

ICP Sedikit Menguat

Posted by

Jakarta, Petrominer — Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Januari 2017 masih menguat meski hanya sedikit. Tren serupa juga dialami harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Prices).

Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Januari 2017 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Rabu (9/2), harga minyak mentah Indonesia mengalami sedikit kenaikan dibandingkan Desember 2016.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat US$ 51,88 per barel, naik US$ 0,79 per barel dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 51,09 per barel. Penguatan serupa juga terjadi pada harga rata-rata ICP SLC, yang naik US$ 0,49 per barel dari US$ 52,62 per barel menjadi US$ 53,11 per barel.

Penguatan harga minyak mentah Indonesia dan minyak mentah utama lainnya di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh laporan tentang kondisi geopolitik yang tidak stabil di Timur Tengah, ditambah dengan insiden penembakan Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov, yang ditembak mati di Ankara, Turki.

Harga juga terdongkrak naik karena crude oil throughput kilang-kilang minyak di Taiwan pada bulan Desember 2016 sebesar 890 ribu barel per hari, meningkat 9% dibandingkan bulan November 2016 yaitu 815 ribu barel per hari.

Penguatan harga minyak mentah Indonesia dan minyak mentah utama lainnya di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan minyak mentah untuk kilang di Australia, Jepang dan India. Permintaan minyak mentah Vietnamese Grade oleh Ampol Australia meningkat karena kebutuhan variasi suplai untuk kilang Australia.

“Permintaan minyak Jepang tumbuh secara signifikan hingga 0,17 juta barel per hari (bph) menjadi 3,8 juta bph. Sementara permintaan minyak di India naik hingga mencapai 0,5 juta bph menjadi 4,67 juta bph,” tulis laporan SKK Migas tersebut.

Sejalan dengan itu, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami kenaikan. Brent (ICE) naik US$ 0,53 per barel dari US$ 54,92 per barel menjadi US$ 55,45 per barel. WTI (Nymex) naik US$ 0,44 per barel dari US$ 52,17 per barel menjadi US$ 52,61 per barel. Basket OPEC naik US$ 0,67 per barel dari US$ 51,74 per barel menjadi US$ 52,41 per barel.

Penguatan harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu penurunan produksi minyak dunia pada Desember 2016 dibandingkan November 2016. Berdasarkan publikasi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) pada Januari 2017, produksi minyak dunia turun 0,3 juta bph menjadi 96,92 juta bph.

“Proyeksi permintaan minyak mentah dunia tahun 2017 direvisi naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 40 ribu bph menjadi 95,6 juta bph. Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2017 naik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,1% menjadi 3,2%,” tulis laporan tersebut.

Masih Menguat

Untuk bulan Pebruari 2017, harga diperkirakan masih menguat karena negara-negara OPEC dan Non-OPEC akan terus mengurangi tingkat produksi sesuai kesepakatan. Tidak hanya itu, harga juga akan terdorong naik karena meningkatnya permintaan minyak mentah global di kuartal I 2017 dan tetap menguatnya mata uang utama lainnya dibandingkan US dolar.

Namun, harga bisa saja kembali memperlemah karena dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya adalah tetap bertambahnya jumlah pengoperasian rig secara global, dan terus meningkatnya produksi minyak mentah di Amerika Serikat.

Sepanjang Pebruari 2017, harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 51,00 – 55,00 per barel, harga rata-rata WTI (Nymex) berkisar antara US$ 52,00 – 57,00 per barel, dan harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 54,00 – 58,00 per barel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *