Jakarta, Petrominer — Tenaga Ahli Bidang Energi di Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Dr. Haposan Napitupulu pernah menyatakan proyek pipanisasi di Blok Masela ini bukan merupakan proyek pipa terbesar di Indonesia, karena sebelumnya juga pernah dibangun jalur pipa gas laut.
Dia memberi contoh, North Bali ke Gresik sepanjang 370 Km; lapangan Kakap Natuna ke Singapura sepanjang 500 Km; lapangan Koridor Jambi ke Singapura sepanjang 248 Km; dan lapangan Kepodang ke PLTU Tambaklorok di Semarang sepanjang 100 Km.
“Jalur pipa yang akan dibangun di skenario Kilang LNG Darat adalah dari Lapangan Abadi ke Pulau Selaru sepanjang 90 km,” kata Haposan beberpa waktu lalu.
Namun Haposan mengakui jika jenis pipa yang akan dipergunakan untuk transportasi gas di laut merupakan jenis pipa khusus yang dapat menahan tekanan kedalaman air sekian ribu meter, karena posisinya dipasang atau digelar di dasar laut dengan kedalaman sekian ribu meter. Pipa yang khusus untuk dapat menahan tekanan di kedalaman, flexible untuk menahan arus dasar laut dan pergerakan dasar laut.
Seperti yang disampaikan oleh Konsultan JG Kenney yang telah mlakukan studi jalur pipa atas permintaan kontraktor Inpex. Sampai saat ini, jenis pipa dengan spek tersebut belum diproduksikan di Indonesia, artinya masih diimpor sebagaimana juga sebelumnya untuk beberpa jalur pipa gas seperti Natuna-Singapore, Kangean – Gresik, dan sebagainya.
Senada dengan Haposan, Praktisi Migas Iwan Ratman juga menyatakan bahwa pipa khusus dan fleksibel memang dibutuhkan nantinya jika menggunakan konsep OLNG. Pipa tersebut harus bisa menahan dari arus bawah laut sehingga bukan pipa yang kaku. “Pipa jenis ini sepertinya belum ada di Indonesia,” kata Iwan di Jakarta 18 Maret 2016 di Jakarta.
Namun pendapat lain diutarakan oleh Country Manager Perusahaan Konsultan asing ahli dalam pipanisasi bawah laut yang tak mau disebutkan namanya. Ia menyatakan bahwa jika nantinya membutuhkan material import jenis khusus namun namun sebenarnya tidak harus yang canggih sekali pipanya dari sisi material. “Beberapa pabrikan di Indonesia seperti SEAPI sudah bisa membuatnya. Tapi memang ada keterbatasan dari sisi diameter dan workmanship nya”, katanya.
Ditambahkannya, untuk menetukan diameter pipa maka harus ada hitungan proses proses dan beberapa parameter seperti flow , temeprature dan lain-lain. “Untuk pipa Proyek Masela masuk dalam kategori deep sea. Selain itu ada palung sehingga memang harus ada inovasi konsep berbagai hal,” tambahnya.








Tinggalkan Balasan