Jakarta, Petrominer — Pemerintah dan investor harus memberi perhatian utama pada mitigasi bencana kelautan dalam pelaksanaan proyek pengembangan Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku. Upaya mitigasi lanjutan perlu dilakukan untuk meminimalkan resiko dalam pelaksanaan proyek dengan pembangunan sistem perpipaan gas ke darat tersebut.
Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mukhtasor, menyatakan, selain mempertimbangkan faktor ekonomis dan dampaknya bagi masyarakat sekitar, ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian khususnya mengenai fenomena alam dan riwayat oseanografi dasar laut. Catatan mengenai gempa, kondisi dinamika lingkungan laut, keadaan sedimen dasar laut dan kondisi bathymetri atau tophografi dasar laut merupakan faktor yang penting dalam hal keselamatan operasi sistem perpipaan.
“Ini akan berbeda jika pipa ada di daratan, kondisi tanah lebih stabil. Catatan gempa yang lebih dari 2000 kali sejak tahun 1900 itu juga perlu menjadi perhatian” ujar Mukhtasor dalam acara FGD tentang Energi di Kantor Pengurus Pusat IKA ITS di Jakarta, Jum’at (25/3).
Dia menjelaskan, jarak angkut gas dengan pipa 90 km itu cukup panjang. Beroperasi di lingkungan palung yang dalam dan mencapai order seribu meter lebih. Kalau bertemu daerah batimetri dasar laut yang curam dapat mempengaruhi kesetabilan pipa. Sementara arus yang cukup kekuatannya dapat menyebabkan scouring (gerusan) yang dapat berakibat pada tergerusnya dudukan pipa, lama-lama pipa akan terbentang dan bergetar lalu menurunkan kekuatannya.
Mukhtasor, yang juga Guru Besar Teknik Kelautan ITS, menambahkan keadaan sedimen dasar laut menggambarkan keadaan tanah dan batuan tempat dudukan pipa. Apabila kondisinya lembek maka kekuatan menahan pipa lemah. Hal inilah yang dapat menimbulkan bahaya sehingga perlu perhatian khusus dalam keamanan pipa.
“Kondisi oseanografi inilah yang diharapkan mendapat perhatian lebih ketika merealisasikan proyek blok Masela terutama dalam hal keamanan pipa karena ada potensi bencana lingkungan laut yang perlu diwaspadai,” paparnya.
Maka, menurut Mukhtasor, analisis dampak lingkungan harus dilaksanakan secara benar dan bukan sebagai seremonial legalitas. Disamping itu, harus ada revisi POD (Plan Of Development) Lapangan Abadi, Blok Masela. Revisi ini tidak mudah karena ruang lingkup pekerjaan akan sangat berbeda.
“Investor juga harus investasi untuk meningkat level detilnya survai bathimetry dan oseanografi dan mendesain foot-print perpipaan dari wellhead ke daratan yg disesuaikan dengan zonasi lingkungan laut yang aman,” tegasnya.








Tinggalkan Balasan