,

Perlu US$ 80 miliar Untuk Infrastruktur Gas

Posted by

Jakarta, Petrominer — Indonesia memerlukan investasi US$ 70-80 miliar untuk pembangunan infrastruktur gas bumi secara menyeluruh. Ini diperlukan untuk mencukupi kebutuhan energi domestik yang terus tumbuh sekitar 4 – 5% per tahun.

“Peningkatan kebutuhan energi domestik terjadi karena tumbuhnya populasi kelas menengah dan meningkatnya gross domestic product (GDP). Angka pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi energi secara global,” ujar Chairman Indonesia Gas Society, yang juga menjabat sebagai Plt. Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Yenni Andayani, pada acara pembukaan International Indonesia Gas Conference & Exhibition (Indogas) 2017 di Jakarta Convention Centre, Selasa (7/2).

Yenni menjelaskan, sekitar 15% kebutuhan energi tersebut dipasok dengan gas bumi, sedangkan sisanya dipasok dengan minyak bumi, batubara dan lainnya.

Indonesia merupakan negara yang diberkahi dengan sumber gas bumi yang cukup berlimpah. Bahkan sejak tahun 1970an, Pertamina telah menjadi salah satu exporter LNG di dunia dan terlibat dalam pembangunan infrastruktur LNG yang berkelas dunia seperti fasilitas LNG di Arun, Bontang, dan Donggi Senoro.

“Selain itu, Pertamina juga telah memiliki jaringan pipa gas transmisi dan distribusi, serta lapangan-lapangan gas besar antara lain Mahakam dan Corridor,” paparnya.

Menurut Plt. Dirut Pertamina, peran gas alam untuk ekonomi Indonesia ke depan akan cukup menonjol. Utamanya dipicu oleh pertumbuhan permintaan gas dari pembangkit listrik yang dioperasikan PT PLN (Persero) untuk kapasitas total sekitar 14 ribu megawatt (MW) yang merupakan bagian Program 35 ribu MW, serta proyek Refinery Development Master Plan pada empat kilang dan dua New Grass Root Refinery milik Pertamina.

Sejalan dengan itu, pertumbuhan permintaan gas juga akan didukung oleh penambahan kapasitas pabrik pupuk dan sektor transportasi. Proyek-proyek tersebut menjadikan permintaan gas meningkat. Tantangan selanjutnya adalah upaya yang harus dilakukan untuk memenuhi permintaan tersebut dari hulu ke hilir.

“Indonesia memerlukan investasi baru untuk mengeksplorasi dan mengembangkan sumber-sumber gas baru serta membangun infrastruktur gas yang akan mengirimkannya ke konsumen akhir, kata Yenni.

Berdasarkan kalkulasinya, untuk membangun infrastruktur gas secara menyeluruh Indonesia memerlukan investasi baru sekitar US$ 70-80 miliar hingga tahun 2030. Selain mendukung upaya pemenuhan gas domestik, investasi baru tersebut juga akan menciptakan ribuan lapangan kerja, memicu pertumbuhan industri, serta memacu pertumbuhan GDP Indonesia.

“Investasi infrastruktur gas merupakan investasi jangka panjang untuk 30-an tahun dan untuk menjadi tujuan investasi, Indonesia berkompetisi dengan negara lain. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang baik di seluruh stakeholder, insentif, harga yang kompetitif, dan memastikan iklim investasi dalam negeri yang baik,” terangnya.

Pertamina, lanjut Yenni, sebagai pioner bisnis gas dan LNG dalam skala global telah melakukan upaya pengembangan infrastruktur gas bumi di seluruh mata rantai bisnis gas. Pertamina secara terus menerus juga melakukan pengembangan gas hulu, menyiapkan rencana revitalisasi Blok Mahakam, membangun FSRU (Floating Storage Regasification Unit), serta mengembangkan pipa gas.

“Kami juga telah mengamankan pasokan LNG dari dalam dan luar negeri. Pertamina siap menjadi agen untuk memacu pertumbuhan infrastruktur dan konsumsi gas di Indonesia,” papar Yenni. (Aldi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *