Jakarta, Petrominer – Pemerintah telah menempatkan panas bumi sebagai salah satu pilar utama dalam upaya dekarbonisasi sektor energi. Pengembangan proyek-proyek panas bumi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja hijau, memperkuat ketahanan energi nasional, serta meningkatkan nilai tambah ekonomi di wilayah-wilayah penghasil energi.
Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API/INAGA), Julfi Hadi, mengatakan panas bumi merupakan aset energi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga stabil dan melimpah di Indonesia. Karena itulah, Pemerintah mendorong swasembada energi dan panas bumi dapat menjadi andalan sistem ketenagalistrikan nasional.
“Kami komitmen mendukung percepatan pengembangan panas bumi melalui advokasi kebijakan, peningkatan kapasitas dan promosi investasi hijau yang sejalan dengan agenda keberlanjutan nasional menuju target net zero emission (NZE),” ujar Julfi, Kamis (22/5).
Dia menegaskan, API terus bekerja sama dengan Kementerian ESDM dan pelaku industri untuk mendorong regulasi yang mendukung kelayakan pendanaan proyek, serta berkolaborasi dalam menciptakan upaya efisiensi biaya di geothermal market. Tujuannya untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai regional hub energi panas bumi, sekaligus memperluas kolaborasi dengan mitra global.
“Salah satunya melalui penyelenggaraan The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025 pada 17-19 September 2025. Melalui IIGCE, kami ingin memperkuat posisi Indonesia sebagai regional hub energi panas bumi, sekaligus memperluas kolaborasi dengan mitra global,” ujar Julfi.
Inklusif dan Partisipatif
Ketua Panitia Pelaksana IIGCE 2025, Ismoyo Argo, menyatakan event tahun ini mengusung tema “Fostering Collaboration for a Green Economy in Indonesia: The Role of Geothermal Energy in Sustainable Groth”. IIGCE akan mengusung pendekatan baru yang lebih inklusif dan partisipatif, dengan memperluas jangkauan peserta dari sektor pemerintah, pelaku usaha, akademisi, LSM, hingga generasi muda.
“IIGCE 2025 akan menghadirkan berbagai agenda unggulan, termasuk sesi high-level dialogue, technical paper presentation, international exhibition, business matchmaking, serta kegiatan komunitas seperti field trip dan youth program. Kami menargetkan lebih dari 5.000 pengunjung dan partisipasi dari lebih 30 negara, dengan harapan memperkuat diplomasi energi dan investasi,” ungkap Ismoyo.









Tinggalkan Balasan