, ,

Percepatan PLTS Atap, Andalan Bali Mandiri Energi

Posted by

Denpasar, Petrominer  – Gubernur Bali, I Wayan Koster, telah meluncurkan Percepatan Pemanfaatan PLTS Atap untuk mencapai Bali Mandiri Energi sebagai salah satu program unggulannya. Salah satunya adalah pemasangan PLTS Atap di bangunan pemerintah, fasilitas publik dan sektor bisnis.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, menegaskan bahwa percepatan ini akan berkontribusi pada peningkatan bauran energi terbarukan di Bali dan komitmen aksi untuk Bali NZE 2045, yang diluncurkan Juli 2023 lalu.

“Jika percepatan pemanfaatan PLTS Atap dilakukan secara masif, maka bauran energi terbarukan akan meningkat secara signifikan. Dengan demikian, target Bali NZE 2045 bukan sekadar wacana, tetapi menjadi tujuan yang benar-benar dapat dicapai,” kata Ida Bagus Setiawan.

Solusi Cepat

Institute for Essential Services Reform (IESR) menyambut positif inisiatif ini. Lebih jauh, ini dinilai sebagai langkah progresif untuk mendorong kemandirian energi berbasis sumber daya lokal sekaligus mempercepat transisi menuju sistem energi bersih dan pembangunan berkelanjutan untuk mewujudkan Bali Net Zero Emission 2045.

Di sisi lain, ketergantungan Bali pada pasokan listrik berbasis fosil, termasuk ketergantungan kabel laut Jawa-Bali sebesar 400 MW, menunjukkan kerentanan sistem energi yang ada saat ini. PLTS Atap dinilai sebagai solusi cepat, fleksibel, dan cocok dengan kondisi geografis serta struktur sosial-ekonomi Bali yang tersebar untuk meningkatkan keamanan pasokan energi di Bali.

Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan pembangunan pembangkit listrik tersebar dalam jumlah besar seperti PLTS Atap yang dilengkapi dengan battery energy storage system (BESS) merupakan cara yang cepat dan termurah untuk meningkatkan sumber pasokan energi listrik di pulau Bali. Langkah ini juga bakal meningkatkan keamanan pasokan energi, dan mengurangi risiko gagal pasok listrik dari Jawa akibat terganggunya kabel interkoneksi yang saat ini memasok 25 hingga 30 persen listrik di Bali.

“PLTS Atap dan BESS juga dapat menjadi solusi untuk mengelola laju permintaan listrik yang tinggi pasca pandemi, dan mengurangi tekanan kepada PLN untuk menambah pasokan baru untuk memenuhi kecukupan pasokan listrik,” kata Fabby.

IESR merekomendasikan agar Pemerintah mendukung inisiatif ini. Pemerintah juga didesak melakukan revisi terhadap Permen ESDM No. 2/2024 yang mengatur tentang PLTS Atap untuk mencabut sistem kuota dan memperkenalkan kembali skema net-metering dan penggunaan PLTS Atap dengan BESS, untuk PLTS Atap untuk bangunan industri dan komersial.

“Revisi ini akan membuka kesempatan luas konsumen listrik di Bali dan di seluruh Indonesia untuk memasang PLTS Atap sebagai pembangkit terdistribusi dan memperkuat ketahanan energi di Indonesia,” ungkapnya.

Bali sebagai pusat budaya dan pariwisata Indonesia, dapat menjadi contoh nyata transisi energi yang adil dan berbasis masyarakat. PLTS Atap bukan hanya solusi teknis, melainkan simbol partisipasi warga dalam menyelamatkan bumi. Untuk mewujudkan ini, IESR mendorong perluasan kolaborasi antara pemerintah daerah, PLN, institusi pendidikan, komunitas lokal, dunia usaha, serta organisasi masyarakat sipil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *