, ,

Jokowi Resmikan PLTG MPP 500 MW

Posted by

Mempawah, Petrominer — PT PLN (Persero) kembali membuktikan komitmennya dalam mempercepat proyek pembangunan pembangkit listrik sesuai porsinya dalam Program 35.000 megawatt (MW) untuk meningkatkan ratio elektrifikasi sebesar 99,7 % pada tahun 2019. Sebanyak delapan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Mobile Power Plant (MPP) dengan kapasitas total 500 MW berhasil dibangun dan dioperasikan sesuai jadwal.

Kedelapan PLTG MPP itu diresmikan operasionalnya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Sabtu siang (18/3). Acara peresmian delapan PLTG MPP yang lokasinya tersebar itu dipusatkan di MPP Parit Baru 4×25 MW (MPP Pontianak), yang terletak di Desa Jungkat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Acara peresmian tersebut sengaja dipusatkan di PLTG MPP itu sebagai bentuk penghargaan atas ketepatan janji PLN untuk membangun PLTG MPP dalam waktu enam bulan. Ketika melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking), Presiden Jokowi sudah mewanti-wanti PLN untuk membangun dan mengoperasikan PLTG tersebut tepat waktu.

“Saat saya ke sini, meletakan batu pertama. Saat itu saya bertanya kapan selesai mobile power plant yang sedang proses dibangun?” kata Jokowi.

Pertanyaan tersebut, menurut Presiden, dijawab oleh Direktur Utama PLN Sofyan Basir, yang menyatakan sanggup menyelesaikan pembangunan delapan proyek MPP dalam waktu enam bulan setelah groundbreaking dan saat ini kesanggupan tersebut telah dibuktikan.

“Disampaikan Dirut PLN waktu itu, 6 bulan pak, janji? janji pak, dan saat ini sudah selesai,” tutur Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menegaskan bahwa listrik merupakan elemen yang sangat penting bagi pembangunan Indonesia. Jika tidak ada listrik, tidak akan ada investasi dan pembangunan.

“Tidak akan ada pabrik, investor dan pembangunan lainnya jika tidak ada listrik. Padahal berbagai investasi tersebut berpeluang menyerap tenaga kerja. Oleh karena itu, kecepatan ini sangat dibutuhkan, dan PLN berhasil mewujudkannya,” ujar Jokowi sambil memuji PLN.

PLTG MPP adalah pembangkit listrik dual fuel (menggunakan bahan bakar solar dan bahan bakar gas) yang mobile (dapat dipindahkan ke lokasi lain dengan menggunakan trailer). Saat ini, pembangkit listrik tersebut masih menggunakan Marine Fuel Oil/MFO (minyak diesel), dan dalam waktu dekat bisa dikonversi menjadi bahan bakar gas.

Karena itulah, Presiden Jokowi ini berpesan agar pasokan gas untuk PLTG MPP tersebut bisa lebih diprioritaskan. Inilah yang menjadi tanggung jawab Pemerintah terutama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengalokasikan gas sebaik mungkin bagi kebutuhan kelistrikan.

Kedelapan PLTG MPP tersebut adalah:
1. MPP Jeranjang- Lombok dengan kapasitas (2 x 25 MW), beroperasi sejak 27 Juli 2016.
2. MPP Air Anyir- Bangka dengan kapasitas (2×25 MW), beroperasi sejak 13 September 2016
3. MPP Tarahan – lampung (4×25 MW), beroperasi sejak 29 September 2016
4. MPP Nias (1×25 MW), beroperasi pada 31 Oktober 2016
5. MPP Pontianak kapasitas (4×25 MW), beroperasi sejak 8 November 2016.
6. MPP Balai Pungut-Riau (3×25 MW), beroperasi sejak 13 November 2016
7. MPP Suge- belitung (1×25 MW), beroperasi sejak 22 November 2016
8. MPP Paya Pasir-Medan berkapasitas (3×25 MW), beroperasi sejak 9 Desember 2016.

Presiden Joko Widodo meresmikan operasional 8 PLTG MPP di MPP Pontianak, yang terletak di Desa Jungkat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (18/3). (Petrominer/Sony)

Bright Batam

Sementara itu, Sofyan yang tampak sumringah karena dipuji Presiden Jokowi menjelaskan bahwa pembangunan pembangkit tersebut berhasil diselesaikan PLN dengan menugasan anak perusahaannya yakni Bright Batam.

Dia menegaskan bahwa pengoperasian delapan unit PLTG MPP ini merupakan bukti komitmen PLN dalam percepatan Program 35.000 MW untuk peningkatan rasio elektrifikasi tanah air sebesar 99,7 persen pada tahun 2019 mendatang. Pembangungan keseluruhan proyek tersebut menelan biaya lebih dari Rp 8 triliun.

“Kami berharap dengan adanya 8 tambahan MPP yang tersebar dengan kapasitas total 500 MW ini bisa menambah kehandalan sistem kelistrikan terutama di NTB, Sumatera Utara, Lampung, Bangka Belitung, Pekanbaru Riau serta kalimantan Barat,” papar Sofyan.

Sejalan dengan peresmian ini, PLN juga telah menyelesaikan pembangunan infratruktur kelistrikan di Kalimantan Barat yakni:
1. PLTU ketapang 2×10 MW
2. SUTT 150 kV Parit Baru – Kota Baru sepanjang 44 kms
3. SUTET 275 kV bengkayang-Jagoibabang sepanjang 162 kms
4. SUTT 150 kV Singkawang-Bengkayang sepanjang 140 kms
5. SUTT 150 kV Singkawang- Sambas sepanjang 118 kms
6. GI 150 kV Kota Baru dengan daya 30 MVA
7. GI 150 kV Sambas dengan daya 30 MVA
8. GITET 275 kV bengkayang 2×250 MVA
9. GI 150 kV Bengkayang sebesar 30 MVA

Khusus untuk sistem Khatulistiwa dengan penambahan MPP Pontianak sebesar 100 MW kini total daya mampu di sistem khatulistiwa mencapai 426 MW dengan beban puncak 300 MW.

“100 MW untuk sistem khatulistiwa artinya bisa memberi peluang penyambungan listrik untuk 120 ribu pelanggan baru,” jelas Sofyan.

PLTG MPP Pontianak di Mempawah, Kalimantan Barat. (Petrominer/Sony)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *