,

Pulau Jawa Bakal Alami Kerusakan Tertinggi Akibat Perubahan Iklim

Posted by

Jakarta, Petrominer – Provinsi-provinsi pusat ekonomi di seluruh Asia menghadapi risiko kerusakan tertinggi akibat cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Hal ini disampaikan The Cross Dependency Initiative (XDI), organisasi analis risiko iklim fisik independen terkemuka, dalam daftar peringkat global terbaru yang dirilis hari ini, Senin (20/2).

Malahan, laporan XDI tersebut menunjukkan bahwa empat provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta, masuk ke dalam peringkat 100 besar global. Jawa Timur berada di peringkat ke-23, Jawa Barat ke-24, Jawa Tengah ke-31, dan DKI Jakarta di peringkat ke-91. Selain itu, ada enam provinsi Indonesia lainnya yang juga memiliki risiko kerusakan tertinggi secara global, yakni Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Banten, dan Aceh.

XDI mengumpulkan data Risiko Iklim Domestik Bruto dengan membandingkan lebih dari 2.600 provinsi dan negara bagian di seluruh dunia berdasarkan proyeksi model kerusakan bangunan dan properti akibat cuaca ekstrem serta dampak dari perubahan iklim yakni banjir, kebakaran hutan, dan kenaikan permukaan air laut. Pada tahun 2050, lebih dari setengah dari 200 provinsi yang menempati daftar teratas kerusakan tersebut berada di  Asia.

“Temuan dari XDI tentang peringkat Risiko Iklim Domestik Bruto menggarisbawahi pentingnya kerangka kerja investasi yang tahan iklim untuk Asia dan menilai risiko iklim fisik ke dalam rantai pasok,” ungkap CEO XDI, Rohan Hamden.

Menurut Hamden, dalam hal skala keseluruhan risiko kerusakan dan eskalasi risiko, Asia memiliki kerugian terbesar seiring meningkatnya cuaca ekstrem perubahan iklim. Di sisi lain, Asia juga berpotensi mendapat keuntungan terbesar dari pencegahan memburuknya perubahan iklim dan mempercepat investasi ketahanan iklim.

Laporan XDI merupakan analisis risiko iklim fisik pertama yang berfokus secara eksklusif pada daerah pembangunan, membandingkan setiap negara bagian, provinsi, dan teritori di dunia. Laporan ini sangat penting bagi investor karena infrastruktur yang dibangun secara luas umumnya tumpang tindih dengan tingkat aktivitas ekonomi dan nilai modal yang tinggi.

Lebih lanjut, Perbandingan Risiko Iklim Domestik Bruto XDI dari risiko iklim fisik untuk tahun 2050 menemukan bahwa Secara global, lima provinsi di China yakni Jiangsu, Shandong, Hebei, Guangdong, dan Henan memiliki hasil tertinggi untuk risiko kerusakan dari provinsi dan wilayah mana pun dalam analisis ini. Hal itu tak lepas dari fakta bahwa kelima provinsi tersebut besar, menampung pembangunan industri, perdagangan, perumahan dan komersial yang ekstensif, rentan terhadap kenaikan permukaan air laut pesisir, serta banjir sungai dan permukaan.

Dari data 50 besar provinsi paling berisiko pada tahun 2050, lebih dari setengahnya berada di China, terutama di wilayah timur dan selatan yang terkoneksi langsung dengan perekonomian global seperti di sepanjang perairan dan delta Sungai Yangtze dan Sungai Pearl.

Pusat-pusat ekonomi Asia yang sangat maju dan signifikan, secara global, berada di peringkat 100 teratas untuk risiko kerusakan, termasuk Jakarta, Beijing, Ho Chi Minh City, Taipei City, dan Mumbai.

Asia Tenggara mengalami eskalasi kerusakan terbesar dari tahun 1990 hingga 2050 di seluruh dunia.

Peringkat Risiko Iklim Domestik Bruto adalah analisis global paling canggih tentang risiko iklim fisik hingga saat ini. Peringkat ini menawarkan keluasan dan kedalaman serta perincian dalam skala yang belum pernah dilihat sebelumnya.

“Sekarang, untuk pertama kalinya, industri keuangan dapat secara langsung membandingkan Mumbai, New York, dan Berlin menggunakan metodologi serupa,” kata Hamden.

Peringkat Risiko Iklim Domestik Bruto XDI mencerminkan risiko fisik terhadap daerah pembangunan dari delapan bahaya cuaca ekstrem dari perubahan iklim yakni banjir sungai dan permukaan, genangan pesisir, panas ekstrem, kebakaran hutan, pergerakan tanah (terkait kekeringan), angin ekstrem, dan pencairan es beku.

Pemeringkatan dilakukan berdasarkan bangunan fisik yang dapat terdampak atas perubahan pola cuaca dan insiden cuaca ekstrem akibat perubahan iklim sesuatu dengan IPCC Representative Concentration Pathway (RCP) 8.5. Artinya apabila dunia tidak melakukan aksi iklim apapun maka suhu rata-rata dunia akan melampaui 4 derajat Celcius pada tahun 2100. Lebih dari 320 juta titik data digunakan dalam menganalisis kemungkinan kerusakan yang dapat dialami wilayah akibat dampak pada aset infrastruktur dan bangunan.

Wilayah yang disajikan dalam kumpulan data Risiko Iklim Domestik Bruto XDI adalah yurisdiksi administratif pemerintah daerah pertama untuk sebagian besar negara.

10 Daerah Indonesia Teratas untuk Kerusakan Ggabungan tahun 2050

Provinsi Peringkat Global Top 1%
Jawa Timur 23 Ya
Jawa Barat 24
Jawa Tengah 31
Sumatra Utara 67
Sulawesi Selatan 80
Sumatra Selatan 84
DKI Jakarta 91
Kalimantan Barat 110
Banten 119
Aceh 132

 10 Daerah Indonesia Teratas untuk Rasio Kerusakan Rata-rata tahun 2050

Provinsi Peringkat Global Top 1%
Sulawesi Barat 25 Ya
Kalimantan Barat 28
Kalimantan Utara 50
Kalimantan Tengah 53
Kalimantan Timur 70
DKI Jakarta 79
Aceh 88
Papua 91
Gorontalo 96
Kalimantan Selatan 104

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *