Jakarta, Petrominer – Tahun 2023 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Beberapa proyek yang belum rampung diharapkan target pengerjaannya bisa selesai pada tahun ini. Sebab, jika tidak tentu akan semakin melambat karena tahun pemilu 2024 bakal menjadi penyebab ketidakpastian aturan dan kebijakan.
Proyek hulu migas yang masih antre pengerjaannya antara lain: Proyek Gas Masela; Proyek IDD (Indonesia Deep-water Development); Natuna; Andaman (Aceh); Tangguh (Papua); Agung (Bali Utara); Seram; Timor; Rokan CEOR (Chemical Enhanced Oil Recovery); Aspal Buton; Aru; Warim Papua; dan lain-lain.
Salis S. Aprilian,
- Pengamat Energi dan
- Pendiri serta CEO Digital Energy Asia
==============================
Selain itu, keselarasan pembangunan infrastruktur gas dengan kebutuhan gas domestik masih menjadi tantangan dalam membangun konektivitas antara sektor hulu, tengah, dan hilir (upstream, midstream and downstream). Keterpaduan tujuan dan sasaran yang tertuang dalam road map pengembangan industri hilir migas yang membutuhkan gas sebagai bahan baku dan bahan bakar, serta elektrifikasi yang bersumber dari gas dan energi terbarukan harus sinkron secara nasional. Khusus untuk infrastruktur LNG, tidak hanya membangun tambahan train (kasus Tangguh), tetapi juga membangun regasifikasi, bunkering LNG, dan memanfaatkan produksi Kilang LNG yang menurun (kasus Badak) sebagai LNG Hub.
Desentralisasi, dekarbonisasi dan digitalisasi sebagai trend pengelolaan energi ke depan juga harus menjadi agenda yang jelas tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional RUEN) yang telah melalui verifikasi Dewan Energi Nasional (DEN).
Prospek
Industri migas Indonesia pada tahun 2023 diperkirakan masih akan lebih stabil dibandingkan kondisi internasional yang terkena imbas berkepanjangan dari perang Ukraina.
Indonesia masih memiliki beberapa lapangan migas yang potensial untuk segera dikembangkan. Lapangan Abadi di Blok Masela, atau beberapa lapangan di Blok IDD di jalur delta Mahakam hingga laut dalam, merupakan contoh lapangan migas yang memiliki potensi besar dan perlu pengembangan serius.
Sedangkan lapangan di Blok Rokan dan Proyek Tangguh yang sudah memiliki kepastian cadangan migasnya memerlukan percepatan pelaksanaan agar proyek yang direncanakan OTOBOS (on time, on budget, and on scope). Target pemboran eksploitasi di Blok Rokan perlu kecepatan evaluasi dan respon terhadap hasil yang diperoleh. Karena tidak hanya harus berhasil mencapai jumlah sumur yang dibor, tetapi juga jumlah produksinya.
Selain beberapa blok migas yang telah dialihkan ke Pertamina, seperti Blok Mahakam; Blok Sanga-sanga; Blok Kalimantan Timur; dan Blok Rokan, blok migas yang masih memiliki potensi peningkatan produksi adalah Blok Cepu. Masih ada Kedung Keris, Kedung Keris Barat, Alas Tua, Alas Dara, Kemuning, dan bidang lainnya.
Blok eksplorasi dan pengembangan migas yang sedang dikerjakan antara lain: Blok Andaman di lepas pantai Nangro Aceh Darussalam, serta Blok Agung di Bali utara; Blok Seram di sekitar Pulau Seram; Blok Aru di laut dalam dekat Kepala Burung, Papua; Blok Warim di Papua; dan deposit aspal terbesar di Buton, Sulawesi Tenggara.
Tantangan dan Peluang
Pemerintah telah meminta kerjasama berbagai pemangku kepentingan di industri hulu migas. Namun, hal mendasar yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah masalah operasional dan strategi pengelolaan aset.
Beberapa lapangan migas lama yang dikelola Pertamina tentunya memiliki tantangan yang tidak hanya semakin sulit dalam meningkatkan produksi, tetapi juga dalam pengoperasian dan pemeliharaan guna mempertahankan tingkat produksi masing-masing lapangan. Oleh karena itu, Pertamina harus fokus pada kegiatan eksplorasi yang harus dilakukan secara lebih serius dengan menggunakan data dan teknologi terkini.
Sudah saatnya para geoscientist menggunakan aplikasi perangkat lunak yang sudah melibatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Begitu juga untuk ahli teknik reservoir, pengeboran dan produksi.
Dengan memiliki sistem yang terintegrasi untuk mengoptimalkan produksi yang terhubung dengan database terbaru di Blok Rokan, yaitu IODSC (Integrated Optimization Decision Support Center), diharapkan Pertamina dapat mereplikasi sistem ini ke aset lainnya. Dengan demikian, digitalisasi di sektor hulu migas akan berjalan dengan baik dan berdampak signifikan. Tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi tetapi juga kehandalan, akurasi data, dan keberlanjutan yang terjamin.
Apalagi SKK Migas sendiri telah membangun IOC (Integrated Operation Center) yang dapat memantau kegiatan operasional perusahaan hulu migas di seluruh Indonesia. Ini adalah sistem yang saling mendukung dalam membangun digitalisasi sektor hulu migas Indonesia.
Tantangan lainnya adalah perlunya merestorasi atau menonaktifkan lapangan-lapangan tua yang sudah sangat terpinggirkan dan harus ditinggalkan agar dapat dikembalikan ke lingkungan semula. Ini merupakan tantangan berat yang menyentuh sisi operasional dan pendanaan. Dan, ini harus menjadi perhatian dan kerjasama semua pemangku kepentingan.
Jangan sampai setelah mengeksploitasi sumber daya mineral tak terbarukan, kita meninggalkan lingkungan yang buruk bagi generasi mendatang. Ingat, “kita meminjam alam dari anak cucu kita, alam ini bukan warisan nenek moyang kita”.
Tantangan di wilayah kerja baru, seperti Blok Masela, Blok Andaman, IDD, dan lainnya, adalah perlunya kecepatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan birokrasi yang didukung oleh pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan dan mengelola blok migas.
Juga harus ada pemahaman dari pengguna produk migas bahwa penyesuaian harga dapat diterima dalam kondisi tertentu. Karena dengan menurunnya produksi dan meningkatnya biaya operasional dan pemeliharaan, tentunya hal ini akan menyebabkan nilai keekonomiannya semakin menipis. Oleh karena itu perlu diambil kebijakan yang “win-win” agar terjadi keselarasan dalam pengembangan industri migas hulu, tengah, dan hilir.
Dengan berbagai tantangan tersebut, tentunya banyak peluang yang dapat ditempuh, antara lain: optimalisasi produksi yang dapat dipantau secara real-time menggunakan teknologi digital; penggunaan database dan kecerdasan buatan untuk membantu pengambilan keputusan; pengembangan lapangan baru dan lapangan marjinal yang lebih berbasis kepedulian terhadap lingkungan; pembangunan infrastruktur migas (midstream) yang selaras antara prospek di sektor hulu dan prospek pengguna di sektor hilir; dan pengembangan industri hilir yang masif.
Jalan keluar
Sudah saatnya pembangunan infrastruktur yang menghubungkan produksi hulu migas dan kepentingan pengguna (off-taker) diselaraskan kembali dengan kondisi saat ini. Cadangan dan produksi yang menurun di lapangan marjinal dengan produksi puluhan tahun harus dievaluasi kembali dan dibedakan dengan area yang masih memiliki cadangan dan produksi yang mungkin meningkat. Jika menyangkut lapangan gas, maka harus dipertimbangkan dan dipikirkan bagaimana pengangkutan gas tersebut, skenario pengembangan, kontrak (Perjanjian Jual Beli) dan sebagainya.
Hal lain yang harus menjadi agenda kolaborasi antar pemangku kepentingan adalah keselarasan antara pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan optimalisasi energi tak terbarukan, seperti produksi batu bara, minyak dan gas. Migas sebesar-besarnya masih dapat dimanfaatkan bukan lagi sebagai bahan bakar melainkan sebagai bahan baku (feed stock) bagi industri petrokimia yang masif. Pengelolaan penghematan energi harus menjadi kebijakan prioritas pertama.
Dengan demikian, perusahaan listrik misalnya yang selama ini pengguna gas bumi, selain batu bara, dapat melakukan desentralisasi, dekarbonisasi, dan digitalisasi secara terintegrasi dengan pengguna kendaraan bermotor (transportasi); rumah tangga; dan industri.
Pengembangan industri hilir (petrokimia) juga akan meningkat secara signifikan seiring dengan harga minyak dan gas yang lebih kompetitif dan pasti. Hal itu karena adanya keselarasan kepentingan industri hulu-hilir migas.









Tinggalkan Balasan