, ,

IEA: Konsumsi Batubara Cetak Sejarah Tertinggi

Posted by

Paris, Petrominer – Permintaan batubara global dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 1,2 persen. Kondisi ini tidak sejalan dengan tujuan Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu global menjadi 1,5 derajal Celcius. Salah satu penyebab utama meningkatnya permintaan batubara global ini diperkirakan adalah guncangan pasokan serta tingginya harga gas di tengah situasi krisis Ukraina.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporannya berjudul “Coal 2022: Analysis and Forecast to 2025” menemukan adanya kenaikan permintaan batubara global. Namun peningkatan penggunaan batubara di Eropa diperkirakan akan bersifat sementara dan permintaan di negara-negara maju pada tahun-tahun mendatang bakal menurun. Sementara permintaan batubara di beberapa negara berkembang di Asia diperkirakan masih kuat.

“Ini masih tidak sejalan dengan tujuan Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu global menjadi 1,5 derajat Celcius. Meningkatnya permintaan batubara global karena guncangan pasokan serta tingginya harga gas menjadi salah satu penyebab utamanya di tengah situasi krisis Ukraina,” tulis laporan IEA tersebut yang diperoleh PETROMINER, Senin (19/12).

Lebih lanjut, IEA menyebutkan bahwa pembangkit listrik berbahan bakar batubara global akan mencapai rekor baru sekitar 10,3 terawatt jam tahun ini. Sementara produksi batubara diperkirakan meningkat sebesar 5,4 persen menjadi sekitar 8,3 miliar ton. Ini tertinggi sepanjang masa, melampaui rekor sebelumnya yang ditetapkan tahun 2013.

“Konsumsi batubara diperkirakan akan tetap pada tingkat yang sama di tahun-tahun berikutnya jika tidak ada upaya yang lebih kuat untuk mempercepat transisi ke energi bersih,” tulis laporan tersebut.

Meski permintaan batubara meningkat, namun IEA mencatat adanya penurunan dalam perdagangan batubara termal lintas laut (seaborne coal trade). Menurut data dari Kpler, lembaga yang melacak perdagangan batubara lintas laut, meskipun permintaan tinggi, perdagangan batubara lintas laut pada tahun 2022 masih berada di level 5-8 persen di bawah tingkat pra-pandemi (tahun 2019).

Director of Energy Markets and Security IEA, Keisuke Sadamori, mengatakan bahwa berdasarkan tren pasar saat ini, konsumsi batubara diperkirakan tetap flat pada level yang sama hingga tahun 2025 mendatang. Selanjutnya, konsumsi akan turun hingga di bawah level tahun 2022.

“Kondisi itu terjadi karena adanya penurunan di pasar yang sudah mapan, diimbangi oleh permintaan yang terus kuat di negara berkembang Asia. Hal ini berarti batubara akan terus menjadi sumber tunggal terbesar emisi karbon dioksida sistem energi global,” kata Keisuke.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa dunia sudah mendekati puncak penggunaan bahan bakar fosil, dengan batubara akan menjadi yang pertama alami penurunan. Permintaan batubara tinggi dan kemungkinan akan mencapai titik tertinggi sepanjang masa tahun 2022 ini, yang mendorong emisi global.

“Pada saat yang sama, ada banyak tanda bahwa krisis saat ini kian mempercepat penerapan energi terbarukan, efisiensi energi, dan pompa panas. Tentunya, ini akan memoderasi permintaan batubara di tahun-tahun mendatang. Kebijakan pemerintah akan menjadi kunci untuk memastikan jalan yang aman dan berkelanjutan ke depan,” ungkap Keisuke.

Harga batubara naik ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya di bulan Maret 2022 dan sekali lagi di bulan Juni 2022. Kenaikan ini didorong oleh tekanan yang disebabkan krisis energi global, terutama lonjakan harga gas alam serta kondisi cuaca buruk di Australia, pemasok utama internasional. Eropa, yang sangat terpengaruh oleh pengurangan tajam aliran gas alam Rusia, akan meningkatkan konsumsi batubara untuk tahun kedua berturut-turut. Namun pada tahun 2025, permintaan batubara Eropa diperkirakan turun di bawah level tahun 2020.

Konsumsi batubara global hingga tahun 2025. (IEA, 2022)

Direktur Climate Energy Finance, Tim Buckley, mengatakan eksportir batubara menghasilkan keuntungan yang luar biasa dan mencapai rekor tinggi pada tahun 2022 akibat situasi perang. Namun tren global yang mendasarinya jauh lebih tidak kuat, dengan total volume penjualan lebih rendah dari tingkat pra-pandemi.

Seperti yang disoroti oleh laporan IEA Renewables 2022 yang baru, permintaan batubara diperkirakan turun karena negara-negara memperluas kapasitas pembangkitan energi terbarukan secara dramatis yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan ini terdorong oleh kesadaran terhadap keamanan energi dan biaya yang jauh lebih kompetitif dari energi terbarukan.

“Perusahaan tambang batubara perlu bersiap menghadapi penurunan permintaan yang progresif, karena perkiraan IEA tentang skenario apa pun yang memungkinkan planet layak huni dalam beberapa dekade mendatang. Keuntungan tak terduga dalam waktu dekat dapat menjadi pertanda terjadinya penurunan sistemik yang berkelanjutan dalam jangka panjang bagi penambangan batubara, terutama mereka yang gagal mempersiapkan diri, dan memutar model bisnis mereka untuk memenuhi kebutuhan dekarbonisasi global,” kata Tim.

Tiga produsen batubara terbesar dunia, China, India, dan Indonesia, semuanya akan mencapai rekor produksi tahun 2022 ini. Meskipun harga tinggi dan margin yang bagus bagi  produsen batubara, namun tidak ada tanda-tanda lonjakan investasi dalam proyek batubara yang digerakkan oleh ekspor. Hal ini mencerminkan kehati-hatian di kalangan investor dan perusahaan pertambangan tentang prospek batubara jangka menengah dan panjang.

Permintaan batubara diperkirakan akan turun di negara maju di tahun-tahun mendatang karena energi terbarukan semakin menggantikannya untuk pembangkit listrik. Namun, negara berkembang di Asia akan meningkatkan penggunaan batubara untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi, bahkan saat mereka menambahkan lebih banyak energi terbarukan.

Perkembangan di China, konsumen batubara terbesar di dunia, akan memiliki dampak terbesar pada permintaan batubara global di tahun-tahun mendatang. Begitu pula dengan India, yang akan memberi dampak signifikan.

Produksi batubara global hingga tahun 2025. (IEA, 2022)

Program Leader E3G, Camilla Fenning, menjelaskan tingginya permintaan batubara di negara berkembang Asia yang dicatat dalam laporan IEA memastikan bahwa batubara tetap menjadi sumber terbesar emisi karbon global. Kondisi ini segera diatasi agar memiliki kesempatan menjaga pemanasan global di bawah 1,5 derajat.

“Satu catatan positif adalah kemajuan baru-baru ini di Just Energy Transition Partnerships (JETP) Indonesia dan Vietnam, yang didukung oleh keuangan internasional, untuk mempercepat penghapusan batubara termasuk menghindari pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara baru. Tapi deklarasi politik JETP ini perlu bergerak cepat untuk implementasi, membuka pembiayaan publik dan swasta transformasional yang diperlukan untuk berporos menuju sistem energi bersih,” kata Camilla.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *