Jakarta, Petrominer – Multi Bintang Indonesia berupaya memaksimalkan sirkularitas dengan menerapkan prinsip ekonomi sirkular pada setiap kegiatan operasionalnya. Ini dilakukan demi menciptakan lingkungan dan bisnis yang berkelanjutan.
Perusahaan peracik bir ikonik dan favorit Indonesia ini komitmen untuk terus mempromosikan ekonomi sirkular guna mewujudkan net zero impact. Caranya dengan mengelola serta mengurangi limbah dan emisi serta memaksimalkan siklus produk dan memberikan kehidupan kedua bagi produk sampingan sisa proses produksi.
“Program ini diuraikan dalam strategi keberlanjutan perusahaan sebagai bagian dari The HEINEKEN Company, Brewing a Better World 2030,” ungkap Corporate Affairs Director, Multi Bintang Indonesia, Ika Noviera, dalam Media Gathering Multi Bintang Indonesia dan Rekosistem, Rabu (14/12).
Hingga saat ini, menurut Ika, sekitar 98 persen sampah padat dalam proses produksi Multi Bintang Indonesia sudah berhasil didaur ulang. Perusahaan juga telah merealisasikan berbagai inisiatif keberlanjutan terkait pengelolaan dan pengolahan limbah.
Dia memberi contoh pemasangan waste trap keempat di Kota Tangerang melalui kerja sama dengan Yayasan Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) dan Aliansi Air DAS Cisadane (AADC). Selain itu, ada program bank sampah bersama We-Hasta di 293 lokasi yang tersebar di Mojokerto dan Tangerang, dengan lebih dari 7.000 anggota komunitas dan 28.000 penerima manfaat.
“Kami percaya bahwa untuk dapat meciptakan inisiatif keberlanjutan yang benar-benar berdampak, kami perlu mencari mitra yang memiliki visi dan tujuan yang sejalan,” tegas Ika.
Gandeng Rekosistem
Sehubungan dengan itu, Multi Bintang Indonesia telah merancang dan menerapkan sistem pengembalian kemasan botol, kerat dan keg melalui mitra-mitra bisnisnya. Sebanyak hampir 80 persen kemasan telah berhasil dikembalikan dan digunakan kembali pada akhir tahun 2021 lalu.
“Untuk memperbesar skala dari upaya pengembalian kemasan minuman produknya, perusahaan kini menyediakan jalur pengembalian langsung bagi masyarakat umum melalui kerja sama dengan Rekosistem,” jelasnya.
Menurut Ika, inisiatif ini juga sejalan dengan gerakan “BINTANG Bersama Bijak” yang tengah dijalankan oleh Multi Bintang Indonesia, sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk mempromosikan konsumsi yang bertanggung jawab, baik pada saat mengonsumsi produknya maupun saat mengelola sampah kemasannya.

Kolaborasi Multi Bintang Indonesia dan Rekosistem menawarkan reward point bagi masyarakat yang menyetorkan sampah botol bir BINTANG atau Heineken® melalui drop point Rekosistem yang tersedia, yakni senilai Rp 500 per botol. Masyarakat hanya perlu mengunduh aplikasi Rekosistem di ponsel lalu mengikuti instruksi-instruksinya serta mencantumkan kode promo “BijakBintang”.
“Rekosistem hadir untuk menerapkan ekosistem berkelanjutan melalui jasa pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga daur ulang sampah, karena kami melihat bahwa persoalan sampah kemasan masih menjadi masalah pelik di Indonesia dan bahkan terus bertambah,” jelas CEO dan Co-Founder Rekosistem, Ernest Layman.
Menurut Ernest, salah satu cara yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan pendekatan yang lebih proaktif kepada masyarakat, seperti yang dilakukan bersama Multi Bintang Indonesia.
Masyarakat dapat melakukan pengembalian sampah kemasan produk Multi Bintang Indonesia di seluruh drop point milik Rekosistem, yang tersebar di berbagai area strategis di Jabodetabek. Informasi selengkapnya mengenai lokasi drop point dapat dilihat di Instagram @rekosistem atau aplikasi Rekosistem. Selain sampah botol kaca dan kaleng minuman kemasan, masyarakat juga bisa menyetorkan sampah lainnya di drop point Rekosistem, yang menawarkan reward point untuk beberapa jenis sampah tertentu.
Saat ini, Multi Bintang Indonesia dan Rekosistem ini tengah merancang perluasan sistem layanan pengembalian kemasan agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat melalui jalur ritel. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong kebiasaan pengelolaan sampah kemasan yang baik dan juga tren pola hidup ramah lingkungan di berbagai lapisan masyarakat.








Tinggalkan Balasan