Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) berkomitmen untuk mengakselerasi transisi energi dengan meningkatkan bauran energi baru terbarukan demi mencapai target Net Zero Emissions pada tahun 2060. Realisasinya, gencar membangun pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) untuk memenuhi kebutuhan industri dan bisnis akan listrik hijau.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan kapasitas pembangkit EBT yang dikelola PLN bakal terus meningkat. Hingga September 2022, PLN mengoperasikan pembangkit EBT dengan total kapasitas 8,5 gigawatt (GW). Total kapasitas pembangkit listrik ramah lingkungan ini ditargetkan mencapai 28,9 GW pada tahun 2030.
“Untuk mencapai target tersebut, sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 – 2030, PLN akan menambah kapasitas pembangkit EBT sebesar 20,9 GW. Porsi pengembangan EBT mencapai 51,6 persen pada RUPTL hijau ini membuktikan komitmen kami dalam menjalankan transisi energi demi kehidupan bumi yang lebih baik,” ujar Darmawan, Senin (24/10).
Dia menjelaskan, pengembangan EBT sebesar 20,9 GW ke depan akan didominasi oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Total penambahan kapasitas PLTA yang terpasang bisa mencapai 10,4 GW. Selain itu, pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) juga akan digenjot dengan total penambahan kapasitas terpasang 4,7 GW hingga tahun 2030.
“Indonesia juga punya potensi panas bumi yang bisa dikembangkan. Rencananya, hingga tahun 2030 mendatang total penambahan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 3,4 GW. Kami juga menggali potensi sumber daya lain seperti bayu, biomassa, biogas, sampah dan pembangkit EBT baseload dengan total penambahan kapasitas pengembangan bisa mencapai 2,5 GW,” ungkap Darmawan.
Khusus untuk tahun ini, PLN telah berhasil menambah kapasitas EBT sebesar 159,35 megawatt (MW) yang berasal dari pembangkit listrik di 20 lokasi. Jumlah penambahan daya EBT naik drastis karena dari 11 lokasi pembangkit yang ditargetkan justru realisasinya mencapai 20 lokasi pembangkit. Dengan rincian 87,07 MW dihasilkan oleh PLTA, 69,38 MW dari PLTP dan 2,91 MW dari PLTS.
“Saat ini kita tengah menghadapi transisi energi. Selanjutnya kita akan menggunakan pembangkit listrik yang berbasis EBT. Namun transisi energi bukan sekadar itu. Intinya adalah peralihan dari bahan bakar berbasis fosil yang impor dan mahal ke EBT yang lokal, murah, dan ramah lingkungan,” jelasnya.








Tinggalkan Balasan