Jakarta, Petrominer – Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan sejumlah negara, termasuk aktif menjajaki Preferential Trade Agreements (PTA) dengan pasar non-tradisional. Salah satu negara potensial yang dibidik adalah Afrika Selatan.
“Saat ini, kedua negara sedang menjajaki PTA untuk membuka peluang pasar. PTA merupakan upaya penguatan industri manufaktur kedua negara, khususnya di sektor peralatan militer, produk makanan olahan, dan pertanian,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Minggu (25/9).
Agus menyebutkan baru saja mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bertemu dengan Minister of Trade, Industry and Competition Afrika Selatan Ebrahim Patel di sela-sela kegiatan Trade, Industry, and Investment Ministerial Meeting (TIIMM). Pertemuan dalam rangkaian agenda Presidensi G20 Indonesia ini digelar di Bali, Kamis lalu.
Pada pertemuan tersebut, menurutnya, Menko Airlangga menyampaikan bahwa transisi energi menuju rendah karbon merupakan aspek penting untuk mencapai ketahanan iklim yang mendukung lingkungan hidup dan penciptaan lapangan pekerjaan.
“Upaya transisi energi Indonesia menuju ramah lingkungan dilakukan melalui berbagai kebijakan nasional seperti penggunaan kendaraan berbasis listrik dengan mendukung pengembangan baterai EV yang didukung oleh bahan baku seperti Nikel yang dimiliki Indonesia,” mengutip pidato Airlangga.
Afrika Selatan memiliki kerangka kerja sama Just Energy Transition Partnership dengan Prancis, Jerman, Inggris dan Amerika Serikat. Pengalaman tersebut dapat dipelajari dan menjadi best practice bagi Indonesia dalam menemukan model yang sesuai untuk menangani isu perubahan iklim di Indonesia.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa Indonesia dan Afrika Selatan sama-sama kaya akan produk mineral dan logam mulia. Kedua negara telah mencoba untuk secara moderat menerapkan kontrol terhadap ekspor, terutama ekspor bahan baku, dengan harapan dapat mendorong hilirisasi produk mineral tersebut menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Melalui kebijakan hilirisasi nikel misalnya, Indonesia telah berhasil mendorong tumbuhnya smelter berbasis nikel, yang menghasilkan produk NPI/FeNi sehingga meningkatkan kapasitas dalam pengembangan industri stainless steel. Enam tahun lalu, pendapatan ekspor Indonesia dari nikel hanya US$ 1,1 miliar. Sedangkan, di tahun 2021 sudah mencapai US$ 20,9 miliar.
“Lompatan nilai tambahnya hingga 19 kali,” ungkapnya.
Selain kerja sama energi dan pertambangan, pertemuan itu juga menyinggung potensi kerja sama halal dan industri otomotif beserta komponennya. Pada pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat untuk berbagi pengalaman dan menciptakan peluang kerja sama serta melanjutkan komunikasi secara reguler. Dilakukan juga work with local industry agar tercipta nilai investasi yang seimbang.
Investasi Afrika Selatan di Indonesia selama tahun 2021 senilai US$ 1,46 juta dengan total 14 proyek. Sementara total perdagangan nonmigas Indonesia dengan Afrika Selatan pada tahun 2021 mencapai US$ 2,8 miliar, meningkat 122 persen dibandingkan tahun 2020 yang sebesar US$ 1,3 miliar.








Tinggalkan Balasan