, ,

Perlunya Sinergi untuk Optimalisasi Pemanfaatan Gas

Posted by

Surabaya, Petrominer – SKK Migas mengajak semua pihak untuk bersinergi mendapatkan solusi bersama pencapaian target penyerapan gas sesuai kontrak pembelian. Sinergi ini diperlukan terkait dengan adanya ekses produksi gas, terutama di wilayah Jawa bagian Timur.

Wakil Kepala SKK Migas, Fatar Yani Abdurrahman, penemuan migas di Indonesia akhir-akhir ini didominasi gas, begitu pula di wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa). Malahan, dalam waktu dekat dengan telah gas-in proyek Jambaran Tiung Biru (JBT), Jawa Timur akan surplus gas.

“Dalam jangka panjang, seiring pelaksaaan plan of development (POD) proyek hulu migas di Jabanusa, maka surplus gas akan semakin besar. Melalui Gas Expo 2022 diharapkan dapat tercipta persamaan persepsi antara SKK Migas, BPH Migas, Tranporter/shipper, Buyer dan para pemangku kepentingan utama lainnya. Hal in agar gas dapat dimanfaatkan secara optimal, termasuk potensi pengembangan industri berbahan baku gas di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ungkap Fatar dalam acara pembukaan Gas Expo 2022, Senin (29/8).

Saat ini, menurutnya, terdapat penemuan cadangan baru dalam bentuk lapangan gas bumi dari hasil kegiatan eksplorasi migas namun proyek-proyek pengembangan lapangan migas tersebut beberapa tertunda karena belum adanya kepastian pasar atau buyer yang akan menyerap potensi produksi gas bumi tersebut. Karena itulah, diperlukan sinergi untuk mendapatkan solusi bersama terkait dengan adanya ekses produksi gas dari tercapainya target penyerapan gas sesuai PJBG (Perjanjian Jual Beli Gas).

Selain itu, Fatar menambahkan diperlukan juga regulasi baru terkait pemanfaatan gas suar bakar, karena adanya potensi pemanfaatan gas suar bakar bagi industri. Namun ini juga terkendala dengan belum tersedianya infrastruktur ke calon buyer yang diperlukannya fleksibilitas dalam pemanfaatannya.

“Yang harus dipikirkan juga adalah bagaimana bisa meningkatkan pemanfaatan gas bumi nasional yang ada di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, agar nilai tambah yang dihasilkan menjadi lebih besar dan mampu memberikan dampak positif berganda bagi tumbuhnya industri penunjang di kedua provinsi tersebut,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fatar juga meminta seluruh pemangku kepentingan di daerah Jabanusa untuk mendukung kegiatan operasi hulu migas di kawasan tersebut. Saat ini, industri hulu migas sedang berjuang untuk mengejar target lifting dan dua proyek migas yang sangat menentukan pencapaian target tersebut berada di kawasan ini, yaitu blok Cepu yang dioperasikan oleh Mobil Cepu Ltd (MC) dan proyek Jambaran Tiung Biru yang dikerjakan oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC).

Block Cepu merupakan produsen minyak terbesar secara nasional dengan kontribusi mencapai 28 persen dari produksi total nasional. Sayangnya tahun ini, produksi dari blok migas ini menurun karena penurunan produksi alamiah dan beberapa kendala teknis yang menghambat operasi. Penurunan ini dapat diantisipasi dengan segera merealisasikan rencana percepatan pengeboran infill drilling dan Kedung Keris West serta pengembangan untreated gas.

Sementara proyek Jambaran Tiung Biru yang diharapkan dapat segera berkontribusi untuk lifting nasional juga mengalami keterlambatan onstream. Penyebab utamanya adalah kendala finansial yang dialami oleh kontraktor yang membangun fasilitas.

“SKK Migas sangat menekankan kepada Kontraktor kontrak kerja sama yang menjadi operator masing-masing blok serta mitra kerja mereka untuk segera mengejar ketertinggalan yang ada karena pencapaian target lifting sangat tergantung kinerja dua blok ini. Selain itu, mengingat industri hulu migas sangat terkait dengan banyak pemangku kepentingan, kami juga berharap dukungan dari seluruh pemangku kepentingan di Jabanusa terhadap kelancaran dua proyek tersebut,” ujar Fatar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *