Jakarta, Petrominer – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian menggandeng PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia (HNAI) untuk menyelenggarakan program pendidikan vokasi setara Diploma 1 (D1) di bidang alat berat. Lulusannya akan langsung ditempatkan bekerja dalam rangka meningkatkan daya saing industri smelter.
Kepala BPSDMI, Arus Gunawan, mengatakan penyelenggaraan pendidikan setara D1 tersebut dilaksanakan sebagai wujud nyata kerjasama antara pemerintah, institusi pendidikan dengan dunia industri. Untuk menunjang sektor industri smelter nikel agar lebih produktif dan berdaya saing, salah satunya diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten seperti operator alat berat.
BPSDMI dan Huadi Nickel-Alloy Indonesia telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangka pelaksanaan Program Kerja Sama Pendidikan Vokasi Industri Setara Diploma 1 (D1). Kerja sama ini juga melibatkan salah satu unit pendidikan di bawah naungan BPSDMI Kemenperin, yakni Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
“Program setara D1 Operator Alat Berat ini akan diselenggarakan selama satu tahun di AK-Manufaktur Bantaeng dan lulusannya langsung ditempatkan bekerja dalam rangka meningkatkan daya saing industri,” ujar Arus, Jum’at (26/8).
Dia berharap program ini bisa ikut mengatasi permasalahan SDM industri di Indonesia, yaitu besarnya jumlah pengangguran terbuka, tingkat angkatan kerja yang masih rendah, dan produktivitas tenaga kerja yang masih rendah. Apalagi, kebutuhan tenaga kerja industri hingga mencapai 600.000 orang setiap tahun.
“Melalui program ini diharapkan akan memperkecil competency gap antara dunia industri dengan dunia pendidikan yang akhirnya tercipta SDM industri kompeten tanpa adanya program retraining oleh industri,” ungkap Arus.
Sementara itu, Direktur Huadi Nickel-Alloy Indonesia, Leonard Hadyanto menyampaikan bahwa program ini merupakan hal yang ditunggu-tunggu karena sangat membantu proses pertumbuhan perusahaannya di Kabupaten Bantaeng.
“Tahun 2021, dua angkatan dengan dua program studi hasil kerja sama kami dengan BPSDMI Kemenperin telah kami serap 100 persen di perusahaan kami,” ungkap Leonard.
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Kemenperin, Restu Yuni Widayati, mengungkapkan tujuan dari penyelenggaraan pendidikan D1 ini adalah membekali calon tenaga kerja dengan keahlian terapan atau keterampilan teknis yang diperlukan untuk bidang pekerjaan tertentu.
“Kegiatan ini diikuti oleh 48 orang sebanyak 2 kelas dengan jumlah peserta sebanyak 24 orang per kelas yang seluruhnya direkrut langsung oleh industri,” jelas Restu.
Program Pendidikan Setara D1 Kerja Sama Industri ini juga merupakan bagian dari program Corporate University BPSDMI dalam mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang dual system dengan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), learning model berstandar global, dan mengembangkan kelas industri.
“Pada tahun 2021 lalu, Kemenperin telah memfasilitasi 981 mahasiswa untuk mengikuti pendidikan yang tersebar di 21 kabupaten/kota di 11 provinsi,” paparnya.









Tinggalkan Balasan