Jakarta, Petrominer – Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menyatakan peluang pasar domestik bagi pengembangan pasokan Gula Kristal Rafinasi (GKR) masih terbuka luas. Begitu pula dengan peluang ekspor bagi produk yang mengandung gula masih terbuka lebar, terutama bagi industri makanan dan minuman.
Menurut Ketua Umum AGRI, Edy Putra Irawady, peluang ekspor produk makanan dan minuman diperkirakan terus meningkat. Pasalnya, IMF pada April 2022 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 mencapai 3,6 persen. Hal ini membuat kondisi harga cukup menarik bagi pasar produk yang mengandung gula di sejumlah negara yang menjadi tujuan ekspor Indonesia.
“Diversifikasi produk dan pasar ekspor Indonesia juga terus meningkat. Sementara permintaan ekspor Gula Kristal Rafinasi dari berbagai negara terus berkembang, karena kualitas produk berkandungan GKR dapat diterima oleh konsumen internasional sesuai ketentuan K3LM (Keselamatan Kesehatan Kerja Lingkungan dan Mutu),” ungkap Edy saat membuka Focus Group Discussion (FGD) AGRI bersama para mitra terkaitnya, Senin (6/6).
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa berdasarkan data BPS tahun 2019, sekitar 3,9 juta Usaha Mikro dan Kecil (UMK) bergerak di bidang industri makanan dan minuman menggunakan GKR. Daerah terbesar industri pengguna GKR adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Banten.
Padahal, data Kementerian Koperasi dan UKM memaparkan jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64,19 juta, di mana komposisi Usaha Mikro dan Kecil sangat dominan yakni 64,13 juta atau sekitar 99,92 persen dari keseluruhan sektor usaha yang di antaranya merupakan industri pengolahan makanan dan minuman.
Menyadari UMKM merupakan pilar terpenting dalam perekonomian Indonesia, menurut Edy, AGRI perlu mengambil bagian dalam peningkatan pertumbuhan industri makanan dan minuman skala mikro, kecil dan menengah serta mendorong pemenuhan permintaan produk dari luar negeri (ekspor).
“Tidak hanya memenuhi kebutuhan bahan baku UMKM, AGRI juga memberikan dukungan penuh bagi para UMKM untuk meningkatkan daya saing dan mutu produknya melalui penggunaan gula kristal rafinasi,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Direktur Eksekutif AGRI, Gloria Guida Manalu, menyampaikan bahwa jumlah UMKM pemanfaat yang menggunakan gula rafinasi masih sangat sedikit. Jumlah tersebut terbatas pada 1.966 UMKM dan cakupannya didominasi di beberapa daerah tertentu saja.
“Padahal UMKM industri pengolahan makanan dan minuman tersebar di seluruh Indonesia. Artinya perlu pembenahan dalam mata rantai sistem pendistribusian GKR, sehingga dapat dirasakan manfaatnya secara merata di seluruh wilayah,” ujar Gloria.
Melalui FGD ini, para pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan bisa membahas strategi bersama guna peningkatan daya saing dan mutu produk UMKM.
Di FGD ini, AGRI bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pakar pemasaran sebagai narasumbernya, dengan tema pokok FGD Mendukung Pengembangan Penggunaan Gula Kristal Rafinasi (GKR) Melalui Peningkatan Daya Saing dan Mutu Produk UMKM.








Tinggalkan Balasan