, ,

PHR Operasikan Rig ke-19, Terbanyak di Indonesia

Posted by

Pekanbaru, Petrominer – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjaga komitmen untuk mendukung tingkat produksi nasional melalui rencana kerja yang masif dan agresif. Realisasinya, selama Januari 2022, PHR tancap gas dengan mengebor 31 sumur baru.

Ini artinya, PHR mampu mengebor rata-rata satu sumur per hari. Melalui berbagai terobosan, efisiensi waktu pengerjaan sumur juga berhasil meningkat hampir dua kali lipat.

“Ini sejalan dengan semangat Pertamina untuk meningkatkan produktivitas dengan cara yang efisien,” ujar Direktur Utama PHR, Jaffee A. Suardin, Kamis (3/2).

Jaffee menjelaskan, Sabtu lalu (29/1) sekitar pukul 20:00 WIB, PHR mulai mengoperasikan tambahan satu rig pengeboran lagi di Wilayah Kerja (blok) Rokan, tepatnya di area lapangan Petani, Kabupaten Bengkalis, Riau. Total rig pengeboran yang beroperasi di blok Rokan kini menjadi 19 rig dan merupakan yang terbanyak di Indonesia saat ini.

PHR merencanakan pengeboran 400-500 sumur baru pada tahun ini, dengan target produksi rata-rata tahunan sekitar 180 ribu barrel oil per day (BOPD). Untuk mendukung upaya pencapaian tersebut, PHR akan mengoperasikan setidaknya 20 rig pengeboran.

Ketika alih kelola blok Rokan dari operator sebelumnya pada 9 Agustus 2021, PHR hanya mengoperasikan 9 rig pengeboran. Hanya dalam tempo sekitar lima bulan, PHR berhasil menambah jumlah rig pengeboran menjadi 18 rig. Rencana kerja yang masif dan agresif itu berhasil menaikkan produksi, dengan mengebor lebih dari 130 sumur baru pada tahun lalu.

Tidak hanya pengeboran sumur baru, optimalisasi produksi juga ditempuh dengan menjaga kinerja base production. Dari 29 rig workover yang beroperasi saat ini, rencananya akan ditambah hingga 36 rig lagi. Tingkat produksi WK migas yang berlokasi di Riau ini sangat penting dalam mendukung ketahanan energi nasional. Blok Rokan menyumbangkan hampir 25 persen dari total produksi minyak nasional.

Tak hanya dari kinerja produksi migas, PHR juga berupaya memberikan manfaat dan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasinya melalui program-program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

”Di tengah aktivitas yang masif dan agresif, prioritas utama kami adalah keselamatan. Setiap pekerja datang bekerja dalam kondisi sehat, pulang juga harus dalam kondisi selamat tanpa kurang suatu apapun,” ungkap Jaffee.

Karena itulah, menruutnya, setiap pekerja di lingkungan Pertamina diberikan hak untuk menghentikan pekerjaan jika melihat situasi yang tidak selamat. Hak itu disebut dengan Stop Work Authority.

“Produksi memang penting, tapi keselamatan pekerja jauh lebih penting,” tegas Jaffee.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *