Jakarta, Petrominer – Pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan domestik terus menjadi perhatian Pemerintah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait guna mendorong penggunaan bahan bakar gas (BBG) untuk transportasi, terutama kendaraan besar, seperti truk dan bus.
“Penggunaan gas untuk kendaraan, kami berkoordinasi dengan berbagai kementerian seperti Perindustrian, Tenaga Kerja dan Perhubungan. Dalam BBG ini, Ditjen Migas berperan menyiapkan pasokan. Ada juga bagian (fungsi) lain dari Kemenperin, Kemenhub dan Kemenaker,” ungkap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji, dalam jumpa pers yang digelar secara daring, Rabu (19/1).
Menurut Tutuka, dalam pemanfaatan BBG untuk transportasi, Pemerintah mendorong agar kendaraan-kendaraan besar seperti truk dan bus dapat menggunakan bahan bakar tersebut. Sementara untuk kendaraan-kendaraan kecil secara bertahap akan mulai beralih ke listrik.
“Ke depan, kita menyadari mobil (berbahan bakar minyak) akan beralih ke listrik dan itu sangat tepat. Tapi belum tentu untuk kendaraan-kendaraan besar karena membutuhkan baterai yang besar. Jadi kami menawarkan bahan bakar dengan harga yang murah,” ungkapnya.
Karena truk-truk dan bus biasanya melalui jalur atau rute yang rutin, Pemerintah berencana akan membangun SPBG di jalur-jalur yang dilalui oleh kendaraan-kendaraan tersebut. Ini dilakukan sebagai upaya untuk menjamin ketersediaan pasokan BBG.
Dengan dana APBN, sejak tahun 2011 hingga 2016, Pemerintah telah membangun 46 unit SPBG yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Indonesia yaitu Kota Palembang, Prabumulih, DKI Jakarta, Bogor, Bekasi, Tengerang Selatan, Depok, Cilegon, Merak, Serang, Kabupaten Subang, Purwakarta, Cirebon, Indramayu, Semarang, Gresik, Sidoarjo, Surabaya, dan Balikpapan. Namun hingga kini, tidak semua SPBG tersebut beroperasi.
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas, Noor Arifin Muhammad, menyampaikan bahwa penghematan dari penggunaan BBG ini bisa mencapai 13 persen. Dengan asumsi, kebutuhan solar untuk satu unit bus sekitar 50 liter per hari dengan harga Rp 5.150 per liter. Jika menggunakan BBG biaya per lsp seharga Rp 4.500.
“Dengan konversi BBM ke BBG juga akan didapatkan emisi kendaraan lebih rendah sehingga menjadi lebih ramah lingkungan,” tegas Noor Arifin.









Tinggalkan Balasan