Jakarta, Petrominer – Digitalisasi industri memang sangat menjanjikan. Teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah sehingga memberi peluang untuk berkembang, dan bahkan melompat.
“Namun harus disadari bahwa transformasi digital dapat menghadirkan digital paradoks,” ungkap Presiden Joko Widodo dalam acara pembukaan Regional Conference on Industrial Development (RCID) ke-2, Rabu (10/11).
Meski begitu, Presiden mengakui bahwa transformasi digital bisa ikut mendukung pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan. Caranya, dengan memperbesar partisipasi pelaku UMKM dalam global value chain, memperkuat SDM sektor IKM, mendorong berjalannya ekonomi sirkular, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam.
“Pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan menjadi kunci, memberikan manfaat bagi industri dalam negeri, menciptakan asas dan kesempatan yang luas dan berkeadilan, khususnya sektor IKM untuk melakukan percepatan transformasi industri 4.0 sehingga bisa naik kelas, semakin maju dan berdaya saing,” tegasnya.
Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya inovasi untuk meningkatkan produktivitas di seluruh rantai nilai global, mendorong kerjasama untuk menjawab tantangan dan mengambil peluang industri 4.0, menciptakan level of playing field di kawasan, serta membangun platform knowledge sharing bagi negara berkembang untuk belajar dari kawasan yang lebih maju. Dengan begitu, industri secara global menjadi semakin cerdas, terhubung, dan terdigitalisasi.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Kementerian Perindustrian bertekad untuk mengakselerasi sektor industri manufaktur di tanah air untuk segera mengimplementasikan teknologi industri 4.0 dalam proses produksinya. Transformasi digital ini diyakini dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah sektor industri sehingga bisa lebih berdaya saing global.
“Sejak tahun 2018, pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai kesiapan kita memasuki era industri 4.0,” kata Agus.
Transformasi industri 4.0 dan transisi energi menuju green industry untuk menjamin pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan. Gelaran RCID ke-2 ini juga sebagai wujud nyata kesadaran kolektif bahwa dunia harus menyiapkan diri terhadap transformasi digital.
“Masing-masing negara punya modal dan tantangan sendiri dalam kesiapan menerapkan industri 4.0. Indonesia dinilai termasuk salah satu negara yang relatif lebih cepat dalam menerapkan industri 4.0. Ini yang harus kita share,” ujarnya.
Menurut Agus, pemanfaatan teknologi 4.0 merupakan salah satu instrumen mewujudkan sektor industri yang mandiri, berdaulat, maju, dan berdaya saing. Merujuk target besar dari peta jalan Making Indonesia 4.0, yakni menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 besar negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.
Sementara Direktur Jenderal UNIDO, Li Yong, menjelaskan bahwa transformasi digital merupakan kunci untuk mendorong produktivitas dan memperkuat pemulihan global.
“Konvergensi teknologi dan perkembangan teknologi yang eksponensial memberi banyak peluang untuk merealisasikan keuntungan-keutungan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Transformasi digital di sektor industri juga mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan kaum muda di industri di masa mendatang,” ujar Li Yong.
Untuk itu, jelasnya, UNIDO telah membangun framework strategis yang mengutamakan pendekatan industri 4.0 di seluruh fungsi organisasi. Semua negara pun dipastikan bisa memperoleh keuntungan dari revolusi industri 4.0 ini.








Tinggalkan Balasan