Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) terus mendorong percepatan program gasifikasi sebagai inisiatif strategis menyambut transisi energi. Melalui sinergi Subholding, dilakukan upaya peningkatan utilisasi Liquefied Natural Gas (LNG) domestik.
Upaya tersebut diwujudkan dengan kerjasama antara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) (PGN) sebagai Subholding Gas dan PT Pertamina Internasional Shipping (PIS) sebagai Subholding Shipping dan Integrated Marine Logistic Company. Sinergi subholding Pertamina ini untuk optimasi pengelolaan dan penyediaan LNG nasional yang terintegrasi di Pertamina Group, yang diproyeksikan akan meningkatkan pemanfaatan volume LNG hingga 270 BBTUD.
Sinergi ditandai dengan penandatanganan Head of Agreement (HoA) kerjasama mengenai penyediaan LNG carrier dan fasilitas bunkering LNG, Jum’at (25/6). HoA ditandatangani oleh Direktur Utama PGN, M. Haryo Yunianto dan Direktur Utama PIS, Erry Widiasto. Disaksikan Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati.
Kerjasama ini mencakup dua hal. Pertama, penyediaan LNG carrier (kapal LNG) oleh PIS dan sarana pendukungnya untuk memenuhi kebutuhan proyek serta kegiatan trading LNG PGN. Kedua, penyediaan LNG dan fasilitas bunkering oleh PGN guna konversi kapal-kapal PIS yang menggunakan BBM menjadi bahan bakar berbasis LNG. Pilot project ditargetkan pada lima kapal support vessel (new built) milik PIS.
“Kolaborasi ini tidak saja berimplikasi secara bisnis, namun juga sebagai wujud komitmen penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di Pertamina group dalam rangka mengurangi emisi karbon (dekarbonisasi),” ujar Nicke.
Menurutnya, kerjasama internal ini menjadi captive market dan akan membawa hal positif bagi PGN dan PIS serta akan berlanjut ke subholding lainnya. Hal ini akan memperkuat peran kedua subholding dalam persaingan pasar eksternal.
Nicke menegaskan bahwa kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan tidak menghambat PGN untuk membangun pipa ke seluruh wilayah Indonesia, khususnya Indonesia bagian Tengah dan bagian Timur dengan skema virtual pipeline. Selanjutnya, virtual pipeline ini disinergikan dengan LNG vessel milik PIS dan ini sama halnya dengan transmission gas pipeline, yang akan menghasilkan captive market sehingga PGN dapat mengembangkan bisnis distribusi gas di seluruh pulau-pulau di Indonesia.
Sementara itu, Direktur Utama PGN, M. Haryo Yunianto, menyatakan bahwa sinergi dengan PIS bermanfaat dalam roadmap perencanaan bisnis LNG ke depan. Pasalnya, ketersediaan LNG Carrier akan mendukung kegiatan LNG trading PGN di domestik dan regional Asia.
“Selain untuk kehandalan energi dan manfaat keekonomian, trading LNG yang masif juga menjadi upaya menuju transisi energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan,” ujar Haryo.
Hal senada juga disampaikan Direktur Utama PIS, Erry Widiastono. Sebagai bagian dari Pertamina Group, PIS mencermati proyek-proyek PGN ke depan seperti Kepmen-13, Teluk Lamong, FSRU di beberapa lokasi, serta trading PGN. Menurutnya, terdapat kebutuhan akan transportasi, storage, dan regasifikasi di laut dan sungai.
“Dan kebutuhan tersebut dapat dipenuhi PIS yang memiliki proses bisnis sebagai Subholding Shipping dan Integrated Marine Logistic Company,” ungkap Erry.
Saat ini, PIS mengelola dan mengoperasikan lebih dari 750 kapal yang terdiri dari kapal milik dan sewa.
Sebelumnya pada Juni 2021, PGN dan PIS juga telah menandatangani HoA dalam proyek infrastruktur LNG terintegrasi untuk pengembangan bisnis RU IV Cilacap dengan menggunakan satu unit LNG Carrier untuk dioperasikan selama 20 tahun.









Tinggalkan Balasan